Perpustakaan Unsil Award 2026 Angkat Isu Keadilan dan Kearifan Lokal dalam Lomba Esai Nasional

Perpustakaan Unsil Award 2026
Para petinggi kampus Unsil foto bersama para juara dalam acara penganugerahan penghargaan Perpustakaan Universitas Siliwangi Award 2026, Selasa (14/4/2026). (IST)
0 Komentar

TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Unit Penunjang Akademik (UPA) Perpustakaan Universitas Siliwangi kembali menggelar Perpustakaan Unsil Award 2026. Ini merupakan ajang literasi tahunan yang mempertemukan gagasan kritis mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia.

Penganugerahan penghargaan berlangsung di Auditorium Muhammad Nu’man Somantri, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Siliwangi, Selasa (14/4/2026).

Tahun ini, lomba esai nasional tersebut mengangkat dua tema besar yang berangkat dari persoalan sosial aktual, yakni benturan antara kearifan lokal dengan proyek strategis, serta ketimpangan keadilan dalam penanganan korupsi dan kejahatan kecil.

Baca Juga:Bupati "Pinjaman"Dua PAC PPP “Meninggal” Sebelum Waktunya!

Kepala UPA Perpustakaan Unsil, Budi Riswandi, mengatakan bahwa tema tersebut dipilih karena berkaitan langsung dengan persoalan yang sedang dihadapi masyarakat.

Menurut dia, pembangunan nasional kerap bersinggungan dengan hak masyarakat lokal dan kelestarian lingkungan, sementara dalam praktik penegakan hukum masih terlihat kesenjangan rasa keadilan.

“Untuk perhelatan Perpustakaan Unsil Award 2026, kami mengangkat dua isu krusial yang sangat relevan dengan dinamika sosial saat ini, yaitu ‘Kearifan Lokal versus Proyek Strategis’ dan ‘Ketimpangan Keadilan: Korupsi versus Kejahatan Kecil’,” ujarnya.

Melalui tema tersebut, lanjutnya, panitia ingin mendorong mahasiswa tidak hanya menyampaikan kritik, tetapi juga menawarkan analisis yang tajam dan solusi yang dapat memberi kontribusi bagi pembangunan yang lebih adil dan berkelanjutan. Setiap karya dinilai berdasarkan orisinalitas gagasan, ketajaman analisis, serta manfaat isu yang diangkat.

Budi mengungkapkan, antusiasme peserta pada tahun ini menunjukkan peningkatan. Awalnya panitia membatasi kuota hanya untuk 150 peserta demi menjaga efektivitas kurasi dan kualitas penjurian.

Namun hingga batas akhir pendaftaran, jumlah karya yang masuk terus bertambah sehingga panitia akhirnya menerima 170 naskah esai dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia.

“Namun di luar dugaan, semangat literasi para mahasiswa dari berbagai penjuru nusantara tetap tak terbendung,” kata Budi.

Baca Juga:Tambang PAD di Kota Tasikmalaya Bernama Event!Pejabat Pemkab Tasikmalaya Membisu Soal Isu Cashback Pinjaman Rp230 Miliar

Dari seluruh naskah yang masuk, panitia menyeleksi 10 karya terbaik untuk masuk putaran final. Dari seluruh naskah yang masuk, panitia menyeleksi 10 karya terbaik untuk masuk putaran final. Setelah melalui penilaian ketat oleh dewan juri dari unsur akademisi, jurnalis, dan penulis profesional, Baiq Isna Nur’aini dari Universitas Mataram ditetapkan sebagai Juara 1 melalui esai berjudul “Deru Mesin di Tanah Wali: Menakar Keadilan Agraria dan Akuntabilitas Sosial Pembangunan Sirkuit Mandalika”.

0 Komentar