Laba Telkom Turun 22 Persen di Kuartal Pertama 2026, Apa Penyebab dan Prospeknya ke Depan?

Laba Telkom
Telkom Indonesia (TLKM) mencatatkan penurunan laba bersih kuartal pertama 2026 sebesar 22 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
0 Komentar

RADARTASIK.ID – Telkom Indonesia (TLKM) mencatatkan penurunan laba bersih kuartal pertama 2026 sebesar 22 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu, mencapai Rp 4,3 triliun.

Angka laba Telkom ini bahkan hanya setara 19 persen dari estimasi laba bersih konsensus 2026, menandai tekanan dari biaya operasional yang meningkat.

Meski demikian, manajemen perusahaan tetap optimistis mampu mencapai target tahunan berkat strategi peningkatan kualitas pelanggan dan ekspansi layanan digital.

Baca Juga:Rebalancing Indeks MSCI Efektif, Saham yang Terdepak Justru Melonjak! BREN dan CUAN ARA, Big Banks TertekanPermainan Tradisional Sunda Ini Ternyata Bisa Bikin Matematika Lebih Mudah Dipahami Siswa SD di Tasikmalaya

Kinerja Keuangan 1Q26

Berdasarkan catatan Stockbit, laba bersih ternormalisasi TLKM di kuartal pertama 2026 tercatat Rp 5,1 triliun, menurun 3,7 persen YoY.

Kontraksi margin EBITDA menjadi 48,3 persen dari 49,8 persen di periode yang sama tahun lalu disebabkan oleh kenaikan beban operasi, maintenance, dan telekomunikasi sebesar 15 persen YoY.

Kenaikan biaya ini sejalan dengan aktivitas jaringan yang lebih tinggi, biaya leased line, dan layanan digital yang mendukung pertumbuhan pendapatan.

Manajemen memproyeksikan laju peningkatan beban ini akan melambat pada kuartal-kuartal mendatang.

Penurunan laba bersih ternormalisasi juga dipengaruhi oleh beberapa faktor non-operasional, termasuk penyesuaian depresiasi aset senilai Rp 498 miliar akibat perubahan kebijakan akuntansi, kerugian investasi yang belum terealisasi dari saham GoTo senilai Rp 309 miliar, serta penyesuaian biaya pajak dan minority interest.

Pendapatan dan Capex

Pendapatan TLKM pada 1Q26 tumbuh sekitar 2 persen YoY, sejalan dengan guidance 2026 sebesar 1–3 persen.

Rasio belanja modal terhadap pendapatan (capex to revenue) tercatat 13,2 persen, di bawah target tahunan 17–19 persen, sedangkan margin EBITDA sedikit lebih rendah dibandingkan target >50 persen.

Baca Juga:Taspen Salurkan Gaji Ketiga Belas Pensiunan ASN Mulai 2 Juni 2026, Tanpa Prosedur Ribet7 Rekomendasi Tempat Belajar Ngaji Online Terbaik untuk Dewasa

ARPU Stabil, Pelanggan Menurun

Average Revenue Per User (ARPU) Telkomsel tercatat Rp 45,1 ribu (+6,4 persen YoY, +0,2 persen QoQ).

Manajemen menekankan fokus bukan hanya pada pertumbuhan jumlah pelanggan, tetapi juga pada peningkatan kualitas pelanggan.

Meskipun jumlah pelanggan turun menjadi 153,7 juta (-3,2 persen YoY, -1,5 persen QoQ), durasi berlangganan meningkat, dengan lebih dari 90 persen pelanggan memiliki masa berlangganan lebih dari 12 bulan.

Exit ARPU 1Q26 tercatat Rp 47 ribu, menunjukkan ruang pertumbuhan ARPU selama 2026 melalui strategi pricing yang disiplin dan peningkatan nilai tambah produk.

Proses Streamlining Bisnis dan Value Unlocking

0 Komentar