Dari Senayan Kembali ke Cipasung!

Kh Acep Adang Ruhiat
KH Drs. Acep Adang Ruhiat, M.Si., Pimpinan Ponpes Cipasung
0 Komentar

TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Minggu, 11 Oktober 2026. Saya tidak sedang mencari politisi. Tidak pula sedang mengejar berita politik. Apalagi mencari bahan untuk menulis tentang pemilihan kepala daerah.

Saya hanya bersilaturahmi. Tidak direncanakan. Tidak diagendakan. Tidak pula membawa daftar pertanyaan seperti ketika hendak mewawancarai pejabat.

Tujuannya satu: kediaman KH Drs. Acep Adang Ruhiat, M.Si., di kompleks Pondok Pesantren Cipasung, Kabupaten Tasikmalaya.

Baca Juga:Pengangkatan Asep MP sebagai Dewas RSUD Dinilai Langkah NekatPansel Dewas RSUD dan DPRD Kota Tasikmalaya Rapat Tertutup Bahas Pengangkatan Asep MP

Saya justru mendapatkan sesuatu yang lebih berharga daripada berita politik. Pelajaran hidup. Dari seorang kiai. Seorang pendidik. Sekaligus mantan anggota DPR RI dua periode yang sudah kenyang dengan dinamika kekuasaan.

Namanya KH Acep Adang Ruhiat. Orang-orang biasa memanggilnya KH Acep. Ada pula yang menyebutnya pria idaman. Tentu dengan sedikit gurauan.

Sebab, meski usianya sudah 68 tahun, penampilannya masih terlihat gagah. Wajahnya teduh. Pembawaannya tenang.

Kegantengannya? Rupanya belum ikut pensiun dari Senayan.

Begitu pula wibawanya. Hari itu beliau mengenakan kemeja berwarna burgundi. Celana bahan hitam. Dan kopiah hitam yang menjadi ciri khasnya. Sederhana.

Tidak ada penampilan yang dibuat-buat. Tidak ada pula kesan ingin memperlihatkan bahwa dirinya pernah menjadi orang penting di republik ini.

Padahal, siapa yang tidak mengenal KH Acep? Setidaknya bagi masyarakat Tasikmalaya. Khususnya kalangan pesantren, Nahdlatul Ulama, dan Partai Kebangkitan Bangsa.

Beliau bukan orang sembarangan. Darah pesantren mengalir kuat dalam dirinya. Ayahnya adalah almarhum KH Ilyas Ruhiyat. Ulama besar Cipasung yang pernah menduduki jabatan Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama.

Baca Juga:Soal Surat Keberatan Pengangkatan Dewas RSUD dr Soekardjo, Opik Minta Jawaban TertulisKeberatan Administratif Guncang Dewas RSUD, Wali Kota Tasikmalaya Diminta Cabut SK Pengangkatan

Sosok yang memiliki kedekatan dengan KH Abdurrahman Wahid. Gus Dur. Dua nama besar dalam sejarah Nahdlatul Ulama.

Tetapi sore itu, yang saya temui bukan kebesaran nama keluarganya. Yang saya temui adalah kesederhanaan seorang anak kiai. Saya memang bukan santri. Tidak pernah mondok di Cipasung. Bahkan tidak memiliki pengalaman menjadi santri di pesantren mana pun.

Saya hanya seorang yang lebih muda. Datang dengan keinginan bersilaturahmi. Sekaligus belajar dari perjalanan hidup orang yang sudah lebih dahulu melewati berbagai persimpangan zaman.

Anehnya, tidak ada jarak. KH Acep menerima saya dengan hangat. Tidak bertanya saya alumni pesantren mana. Tidak pula mempermasalahkan latar belakang pendidikan saya.

0 Komentar