Dari Senayan Kembali ke Cipasung!

Kh Acep Adang Ruhiat
KH Drs. Acep Adang Ruhiat, M.Si., Pimpinan Ponpes Cipasung
0 Komentar

Bagaimana menghadapi keberhasilan. Bagaimana menerima perjalanan politik yang tidak selalu sesuai harapan. Dan bagaimana tetap menjadi pribadi yang sederhana ketika pernah berada di lingkaran kekuasaan.

Ada pelajaran yang saya bawa pulang. Tidak semua orang besar harus memperlihatkan kebesarannya. Sebagian justru menjadi semakin besar karena tidak merasa perlu memperlihatkannya.

KH Acep adalah sosok yang memberi kesan demikian kepada saya. Tentu beliau manusia biasa. Pernah mengambil keputusan politik. Pernah mengikuti kontestasi. Pernah berada dalam perdebatan dan dinamika kepentingan.

Baca Juga:Pengangkatan Asep MP sebagai Dewas RSUD Dinilai Langkah NekatPansel Dewas RSUD dan DPRD Kota Tasikmalaya Rapat Tertutup Bahas Pengangkatan Asep MP

Sebagai tokoh publik, keputusan-keputusan politiknya tetap terbuka untuk dinilai dan dikritik. Namun, dalam pertemuan Minggu itu, saya melihat sisi lain yang layak diceritakan.

Sisi seorang kiai yang tetap bersahaja. Seorang tokoh yang tidak membangun jarak dengan tamunya. Seorang mantan anggota DPR RI yang masih memiliki ruang pengabdian setelah meninggalkan Senayan.

Dan seorang pria yang, menurut gurauan sebagian orang, tetap pantas disebut pria idaman. Bukan semata karena wajahnya.

Melainkan karena keteduhan sikapnya. Saya pulang dari Cipasung membawa sebuah kesimpulan pribadi.

Ternyata, menjadi orang terhormat tidak selalu harus berada di tempat terhormat. Tidak harus menjadi anggota DPR RI. Tidak harus menjadi gubernur. Tidak harus menjadi bupati.

Tidak pula harus terus mempertahankan jabatan agar orang lain tetap menghormati.

Kadang-kadang, kehormatan justru terlihat ketika seseorang sudah tidak lagi memegang jabatan.

Baca Juga:Soal Surat Keberatan Pengangkatan Dewas RSUD dr Soekardjo, Opik Minta Jawaban TertulisKeberatan Administratif Guncang Dewas RSUD, Wali Kota Tasikmalaya Diminta Cabut SK Pengangkatan

Ketika tidak ada lagi fasilitas negara yang melekat. Ketika tidak ada lagi protokol yang mengatur siapa harus duduk di depan.

Ketika yang tersisa hanyalah pribadi dan akhlaknya. Itulah ujian kewibawaan yang sesungguhnya.

Dan bagi saya, KH Acep Adang Ruhiat sedang menjalani fase kehidupan yang menarik. Dari panggung politik menuju ruang pengabdian pendidikan. Dari Senayan kembali ke Cipasung.

Dari memperjuangkan aspirasi masyarakat melalui parlemen menuju upaya membentuk generasi melalui pesantren.

Saya tidak tahu apakah suatu hari beliau akan kembali memasuki gelanggang politik.

Itu urusan beliau.

Tetapi satu hal yang saya rasakan setelah silaturahmi tersebut: KH Acep tidak harus kembali menjadi anggota DPR RI untuk tetap dihormati.

0 Komentar