Dari Senayan Kembali ke Cipasung!

Kh Acep Adang Ruhiat
KH Drs. Acep Adang Ruhiat, M.Si., Pimpinan Ponpes Cipasung
0 Komentar

Ia mengurus yayasan.

Memikirkan keberlangsungan pendidikan. Memastikan warisan pengabdian para pendahulunya tetap berjalan. Tugas yang mungkin tidak semeriah menjadi anggota DPR RI. Tidak setiap hari diliput televisi. Tidak selalu menghadiri rapat bersama menteri. Tidak pula selalu berada dalam pusaran pembicaraan politik nasional.

Tetapi tanggung jawabnya tidak lebih ringan. Di pesantren, yang dipikirkan bukan sekadar program lima tahunan. Melainkan masa depan generasi. Bisa sepuluh tahun. Dua puluh tahun. Bahkan lima puluh tahun mendatang. Seorang politisi mungkin dikenang karena undang-undang yang diperjuangkannya. Seorang pendidik bisa dikenang karena ribuan manusia yang dibentuknya.

Dan seorang kiai bisa terus hidup melalui ilmu, akhlak, serta murid-murid yang meneruskan pengabdiannya. Cipasung telah membuktikan itu.

Baca Juga:Pengangkatan Asep MP sebagai Dewas RSUD Dinilai Langkah NekatPansel Dewas RSUD dan DPRD Kota Tasikmalaya Rapat Tertutup Bahas Pengangkatan Asep MP

Dari generasi ke generasi. Dari KH Ruhiyat, KH Ilyas Ruhiyat, hingga para penerusnya. Pesantren ini bukan hanya bangunan, ruang belajar, atau asrama santri.

Cipasung adalah perjalanan panjang sebuah keluarga yang mengabdikan diri untuk pendidikan dan masyarakat. Warisan semacam itu tentu tidak mudah dijaga.

Apalagi ketika zaman terus berubah. Pesantren harus berhadapan dengan perkembangan teknologi, perubahan karakter generasi muda, tantangan ekonomi pendidikan, serta tuntutan masyarakat yang semakin kompleks.

Di sinilah pengalaman KH Acep sebagai pendidik, organisator, dan mantan legislator menjadi modal berharga. Ia telah mengenal dua dunia. Dunia pesantren yang mengajarkan kesabaran.

Dan dunia politik yang menuntut kecermatan. Keduanya bisa saling melengkapi. Asalkan pengabdian tetap menjadi tujuan.

Saya masih teringat pada kemeja burgundi yang dikenakannya. Juga kopiah hitamnya. Dua hal sederhana yang justru menjadi gambaran kuat dalam ingatan saya. Bukan jas mahal. Bukan atribut kekuasaan. Bukan pula tanda pengenal anggota DPR RI.

Hanya seorang kiai yang duduk menerima tamu. Berbicara dengan tenang. Menjawab pertanyaan tanpa tergesa-gesa. Sesekali mengisahkan pengalaman masa lalunya. Dan tetap memberikan ruang bagi orang yang lebih muda untuk menyampaikan pandangan.

Baca Juga:Soal Surat Keberatan Pengangkatan Dewas RSUD dr Soekardjo, Opik Minta Jawaban TertulisKeberatan Administratif Guncang Dewas RSUD, Wali Kota Tasikmalaya Diminta Cabut SK Pengangkatan

Saya memang tidak pernah menjadi santri Cipasung. Tetapi hari itu, rasanya saya sedang mengikuti sebuah pengajian. Bukan pengajian kitab kuning. Melainkan pengajian kehidupan. Tentang bagaimana manusia menjalani perubahan.

0 Komentar