Puncak karier parlementernya terjadi ketika terpilih menjadi anggota DPR RI. Dua periode. 2014–2019. 2019–2024.
Dari daerah pemilihan Jawa Barat XI yang meliputi Kabupaten Garut, Kabupaten Tasikmalaya, dan Kota Tasikmalaya.
Di DPR RI, ia pernah bertugas di Komisi VI yang membidangi antara lain perdagangan, perindustrian, dan badan usaha milik negara.
Baca Juga:Pengangkatan Asep MP sebagai Dewas RSUD Dinilai Langkah NekatPansel Dewas RSUD dan DPRD Kota Tasikmalaya Rapat Tertutup Bahas Pengangkatan Asep MP
Sepuluh tahun bukan waktu singkat. Cukup untuk mengenal bagaimana keputusan politik dibuat. Cukup untuk memahami bahwa tidak semua aspirasi rakyat mudah diwujudkan. Dan tentu cukup untuk mengetahui bahwa kekuasaan memiliki batas waktu.
Saya semakin tertarik ketika pembicaraan menyentuh perjalanan politiknya. Bukan hanya tentang DPR RI. Ada kisah pencalonan dalam kontestasi kepala daerah. Dari calon wakil bupati hingga keterlibatannya dalam kontestasi Pilgub Jawa Barat 2024.
Tentu tidak semua perjalanan berakhir dengan kemenangan. Ada yang berhasil. Ada yang tidak. Ada yang membawa seseorang ke kursi kekuasaan. Ada pula yang justru membawanya kembali ke tempat semula.
Namun, dari cara KH Acep menjelaskan, saya menangkap satu hal. Ia tidak sedang mengadili masa lalunya sendiri. Tidak pula sibuk mencari siapa yang harus disalahkan atas perjalanan politik yang tidak sesuai harapan.
Baginya, berbagai langkah yang pernah ditempuh merupakan bagian dari kehidupan. Bagian dari pembelajaran. Bagian dari evaluasi. Dan bagian dari perjalanan yang memang harus dijalani.
Saya menyimaknya. Menarik. Sebab tidak sedikit orang yang pernah memiliki kekuasaan justru kesulitan berdamai ketika kekuasaan itu tidak lagi berada dalam genggamannya.
Ada yang terus mencari panggung. Ada yang terus menghitung peluang. Ada pula yang merasa dunia berhenti berputar ketika namanya tidak lagi tercantum dalam daftar pejabat negara.
Baca Juga:Soal Surat Keberatan Pengangkatan Dewas RSUD dr Soekardjo, Opik Minta Jawaban TertulisKeberatan Administratif Guncang Dewas RSUD, Wali Kota Tasikmalaya Diminta Cabut SK Pengangkatan
KH Acep memperlihatkan sikap berbeda dalam pertemuan kami. Ia tetap berbicara tentang perjalanan politiknya. Tetapi tidak menjadikan politik sebagai satu-satunya ukuran keberhasilan hidup.
Saya pun sampai pada sebuah renungan. Barangkali kekalahan dalam politik bukan selalu kegagalan. Bisa jadi justru kesempatan untuk menemukan kembali sesuatu yang lebih penting.
Terutama bagi mereka yang sejak awal memiliki rumah pengabdian. Dan rumah pengabdian KH Acep adalah Cipasung. Kini kesibukannya lebih banyak tercurah untuk pesantren dan lembaga pendidikan.
