Masing-masing diberi kesempatan bicara. Apa yang dirasakan. Apa yang menjadi kendala. Apa yang harus diperbaiki. Lalu semuanya dituangkan dalam kesepakatan kerja yang jelas.
Sesudah itu, kembali bekerja. Kalau perlu berbeda pendapat, silakan. Demokrasi memang tidak mensyaratkan semua orang selalu setuju.
Tetapi perbedaan pendapat tidak boleh membuat pemerintahan kehilangan arah. Kompak bukan berarti tidak pernah berbeda. Kompak berarti tahu bagaimana menyelesaikan perbedaan tanpa mengorbankan kepentingan publik.
Baca Juga:Aktivis Bahas Proyek Geothermal Galunggung Tasikmalaya, Dampaknya Mengancam Ketersediaan AirBuronan Pelaku Kasus Kekerasan Maut di Tasikmalaya Diringkus Polisi di NTT
Pada akhirnya, saya teringat kembali pada kalimat Diky di Dadaha. Ia mengatakan lebih takut tidak bisa mengayomi orang-orang yang seharusnya diayomi daripada kehilangan jabatan.
Kalimat itu seharusnya menjadi bahan renungan semua pihak. Sebab mengayomi bukan hanya soal hadir ketika warga mengadu.
Mengayomi juga berarti memastikan sistem pemerintahan bekerja sehingga warga tidak terus-menerus harus mengadu. Dan memimpin bukan hanya soal memberi instruksi.
Memimpin juga berarti memastikan orang-orang yang menjalankan instruksi memahami tujuan, kewenangan, dan tanggung jawabnya. Maka, siapa yang harus memulai? Wali kota dan wakil wali kota.
Siapa yang bisa membantu mempertemukan? Sekda, DPRD, partai koalisi, dan tokoh-tokoh yang mempunyai pengaruh moral.
Siapa yang harus menjadi tujuan akhirnya?Masyarakat Kota Tasikmalaya. Sebab jabatan hanya berlangsung satu periode. Partai bisa berganti koalisi. Tokoh politik bisa berganti panggung. Tetapi masyarakat tetap tinggal di kota ini.
Jangan sampai yang menang Pilkada adalah satu pasangan, tetapi yang menjalankan pemerintahan seperti dua kubu. Masih ada tiga setengah tahun. Masih ada waktu.
Baca Juga:Parah dan Terus Berulang, TPS Liar di Jalan Lukmanul Hakim Kota Tasikmalaya Dipasangi PagarDewas yang Bikin Dewan Waswas!
Dan masih ada kesempatan untuk membuktikan bahwa Viman-Diky bukan sekadar pasangan yang pernah kompak di baliho.
Melainkan pasangan yang mampu bekerja bersama ketika persoalan datang. Karena kalau sekarang saja semua mulai berhati-hati untuk bicara, nanti siapa yang berani mengatakan bahwa ada masalah? Dan kalau tidak ada yang berani bicara, siapa yang akan memperbaikinya?
Jangan tunggu Dadaha menjadi episode berikutnya. Jangan tunggu persoalan lain ikut menjadi panggung curhat. Duduklah bersama, sebelum masyarakat lebih dulu menyimpulkan bahwa yang perlu ditata bukan hanya Dadaha, tetapi juga komunikasi di Bale Kota. (red)
