Aktivis Bahas Proyek Geothermal Galunggung Tasikmalaya, Dampaknya Mengancam Ketersediaan Air

Proyek geothermal, unsil tasikmalaya
Pepep DW dari Gunung Institute memaparkan dampak Geothermal di wilayah nusantara dalam nobar dan diskusi di Kampus Unsil Tasikmalaya, Jumat malam (9/10/2026).
0 Komentar

TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID—Rencana proyek Geothermal di Gunung Galunggung Tasikmalaya menjadi sorotan para aktivis lingkungan. Proyek tersebut dinilai akan berdampak negatif terhadap kehidupan masyarakat, khususnya mengenai keamanan sumber air.

Proyek Geothermal secara teknis merupakan upaya memanfaatkan panas bumi sebagai sumber energi listrik yang potensial. Kendati demikian, aktivitasnya tentu menimbulkan berbagai dampak, khususnya terhadap lingkungan.

Dari hal tersebut, para aktivis lingkungan dari komunitas pecinta alam nonton bareng video dokumenter “Melawan Demam Geothermal” dan diskusi di Kampus Unsil, Jumat (9/10/2026).

Baca Juga:Buronan Pelaku Kasus Kekerasan Maut di Tasikmalaya Diringkus Polisi di NTTParah dan Terus Berulang, TPS Liar di Jalan Lukmanul Hakim Kota Tasikmalaya Dipasangi Pagar

Video dokumenter tersebut menayangkan dinamika proyek yang serupa di Gunung Gede Pangrango di lingkungan Kampus Unsil, Jumat malam (9/10/2026). Dari mulai pencemaran dan kerusakan lingkungan yang terjadi, penolakan masyarakat sampai dengan upaya paksa dari pemerintah untuk melancarkan proyek tersebut.

Dilanjutkan dengan diskusi yang menghadirkan Pepep DW dari Gunung Institute dan akademisi Zulfi Gumilang Sudrajat. Diskusi difokuskan pada pengenalan geothermal serta Gunung Galunggung dan dikaitkan dengan rencana proyek yang menjadi sorotan.

Berdasarkan pandangan Pepep, dampak nyata dari keberadaan proyek geothermal yakni hilang atau rusaknya sumber air. Maka dari itu efek dari pekerjaan tersebut tidak bisa dianggap sepele. “Air, yang paling jelas air,” ungkapnya.

Dijelaskannya, pelaksana atau pihak yang mendukung akan berargumen bahwa itu tidak akan merusak sumber air. Dengan penjelasan yang teori yang seolah menjamin keamanan. “Mereka pasti pakai argumen ga akan merusak air dengan kedalaman air 2000 sekian,” ucapnya.

Namun realita yang dia temukan, lokasi di mana geothermal sudah beroperasi jelas berdampak negatif terhadap sumber air. Seperti di Kamojang dan Pangalengan di sebutkannya berdampak pada hilangnya danau di masing-masing lokasi. “Dari dua temuan ini saja secara empiris bisa dibuktikan setelah ada geothermal ada dua situ yang hilang,” katanya.

Apalagi, Galunggung merupakan salah satu penyuplai air untuk wilayah Tasikmalaya dan Garut. Tentunya ketika sumber airnya rusak, dampaknya bukan hanya dirasakan warga sekitar Galunggung saja. “Secara ekologis dampaknya sangat besar, ke Utara, selatan, timur, barat,” jelasnya.

0 Komentar