Ketika pasangan itu menang, kemenangan tersebut tentu menjadi kebanggaan politik bersama. Foto bersama beredar. Ucapan selamat berdatangan. Tim pemenangan merasa perjuangannya berhasil.
Tetapi politik tidak berhenti ketika surat keputusan pelantikan dibacakan. Justru setelah pelantikan, tanggung jawab menjadi lebih besar.
Partai pengusung dan pendukung memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga agar mandat politik yang diberikan masyarakat tidak berubah menjadi hubungan kerja yang penuh ketidakpastian.
Baca Juga:Aktivis Bahas Proyek Geothermal Galunggung Tasikmalaya, Dampaknya Mengancam Ketersediaan AirBuronan Pelaku Kasus Kekerasan Maut di Tasikmalaya Diringkus Polisi di NTT
Mereka tidak harus mencampuri setiap keputusan dinas. Tidak perlu pula mengatur siapa harus duduk di kursi mana.Namun, ketika komunikasi dua pemimpin yang mereka dukung mulai menjadi perhatian publik, mereka layak mengambil inisiatif untuk mempertemukan keduanya.
Bukan untuk mengamankan kepentingan partai. Melainkan untuk mengamankan kepentingan masyarakat. Sebab yang memilih pasangan itu bukan hanya kader partai.
Ada pedagang kecil. Ada guru. Ada pengusaha. Ada buruh. Ada warga yang bahkan tidak terlalu peduli siapa ketua partai pengusungnya. Mereka hanya berharap kota ini diurus dengan baik.
Lalu, di mana peran godfather politik?Dalam setiap koalisi, biasanya ada tokoh yang mempunyai pengaruh lebih besar daripada sekadar jabatan formal.
Tokoh yang dahulu mempertemukan pihak-pihak berbeda. Tokoh yang meyakinkan bahwa perbedaan kepentingan bisa disatukan dalam satu tujuan.
Tokoh yang menjadi jembatan ketika komunikasi antarkelompok mengalami kebuntuan.Dalam bahasa politik yang agak nakal, orang menyebutnya godfather.
Bukan dalam pengertian penguasa bayangan. Bukan pula orang yang boleh memerintah wali kota dari belakang. Melainkan figur senior yang memiliki pengaruh, pengalaman, dan kemampuan meredakan ketegangan.
Baca Juga:Parah dan Terus Berulang, TPS Liar di Jalan Lukmanul Hakim Kota Tasikmalaya Dipasangi PagarDewas yang Bikin Dewan Waswas!
Kalau dahulu tokoh-tokoh itu ikut menyatukan kekuatan politik untuk memenangkan pasangan Viman-Diky, sekarang ada pertanyaan yang pantas diajukan: Apakah mereka juga bersedia ikut menyatukan kembali komunikasi di antara keduanya?
Sebab menyatukan orang untuk memenangkan pemilihan tentu berbeda dengan menyatukan orang untuk menjalankan pemerintahan.
Yang pertama membutuhkan strategi. Yang kedua membutuhkan kedewasaan. Dan kedewasaan politik justru terlihat ketika ada masalah, bukan ketika semua sedang mendapatkan keuntungan.
Masa jabatan Viman-Diky masih menyisakan sekitar tiga setengah tahun hingga akhir periode 2029. Itu bukan waktu yang pendek. Masih ada banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan.
