Proposal tersebut memuat rancangan pengembangan kawasan secara lebih rinci, mulai dari konsep, tata letak, posisi, ukuran, material, kebutuhan bahan, hingga rencana anggaran biaya.
Dokumen itu diharapkan dapat menjadi bahan bagi pemerintah desa untuk melanjutkan pengembangan kawasan, termasuk ketika hendak mengajukannya kepada Pokdarwis, calon investor, pemerintah daerah, maupun pihak lain yang berkepentingan.
Dalam rancangan jangka panjang, SAPA Cibeureum tidak berhenti pada landmark.
Kawasan tersebut dirancang memiliki area bersantai, spot foto, kuliner, penerangan, serta ruang aktivitas yang dapat melibatkan pelaku UMKM dan masyarakat sekitar.
Baca Juga:Universitas Mayasari Bakti Cetak Lulusan Profesional yang Adaptif, Yudisium untuk Program Sarjana dan TerapanSetahun Kinerja Kepengurusan Dievaluasi, PKS Kota Tasikmalaya Terus Fokus Perkuat Gerakan di Masyarakat
Pengelolaannya pun dirancang dengan melibatkan sejumlah unsur, mulai dari Pemerintah Desa, Pokdarwis, BUMDes, UMKM, hingga masyarakat.
Artinya, tugas mahasiswa bukan hanya membuat desain lalu meninggalkan lokasi. Tantangan berikutnya justru bagaimana gagasan tersebut diterjemahkan menjadi aktivitas wisata yang hidup dan memberikan dampak ekonomi bagi warga.
Tahap awal realisasi SAPA Cibeureum menggunakan dana kas KKN Internasional dengan biaya sekitar Rp3,5 juta.
Mahasiswa juga menyerahkan website Desa Kalapagenep sebagai bagian dari upaya memperkuat informasi dan promosi digital desa.
Dampak terhadap peningkatan jumlah pengunjung memang belum dapat diukur karena fasilitas baru selesai direalisasikan. Namun, sejumlah pengunjung sudah memanfaatkan landmark sebagai latar untuk berswafoto.
Program SAPA Cibeureum menjadi salah satu bentuk pengabdian mahasiswa dalam ISCE III KKN Internasional BKS-PTN Barat 2026.
Universitas Siliwangi bertindak sebagai host, sedangkan ISBI Bandung menjadi co-host dalam penyelenggaraan program tersebut.
Baca Juga:STT Soroti Potongan Maxim hingga 13 Persen, Program Turbo Disebut Bikin Driver Makin TerjepitDua Pria yang Sempat Diperiksa Terkait Temuan Benda Mirip Bom di Engsun Tasikmalaya Tak Ditahan, ini Alasannya
Kini, bola pengembangan berada di tangan para pemangku kepentingan di daerah.
Sebab, dalam urusan pariwisata, papan nama bisa dipasang dalam hitungan hari. Tetapi membuat sebuah destinasi benar-benar hidup membutuhkan pengelolaan, perawatan, promosi, dan aktivitas ekonomi yang berjalan terus-menerus.
Pantai Cibeureum diharapkan tidak sekadar punya nama baru di pinggir pantai, tetapi benar-benar tumbuh sebagai destinasi wisata sunset yang membuka ruang ekonomi bagi masyarakat Kalapagenep. (rezza rizaldi)
