Selera Lokal Jadi Tantangan Ekspansi Bisnis Kuliner di Tasikmalaya

bisnis kuliner di tasikmalaya
Suasana di Kedai Kopi Rempah Trem di Jalan Ibrahim Adjie Indihiang, Kota Tasikmalaya. (Fitriah Widayanti/Radartasik.id)
0 Komentar

TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Cita rasa khas yang menjadi kekuatan sebuah kuliner di daerah asalnya belum tentu langsung diterima di Tasikmalaya. Masyarakat di kota ini sudah terbiasa dengan karakter rasa tertentu, sehingga makanan atau minuman dengan cita rasa berbeda perlu waktu untuk bisa akrab di lidah lokal.

Pemilik Kopi Rempah Trem, Arya Anantama, melihat karakter selera itu menjadi salah satu tantangan bagi pelaku usaha kuliner dari luar daerah yang ingin masuk ke pasar Tasikmalaya. Produk yang membawa cita rasa khas daerah asal tidak selalu bisa dipertahankan begitu saja ketika berhadapan dengan kebiasaan makan masyarakat setempat.

Pengalaman tersebut dirasakan Arya saat mengembangkan Trem dengan produk utama minuman berbasis rempah. Menurut dia, saat dibawa ke Tasikmalaya, racikan wedang yang memiliki karakter rempah cukup kuat perlu disesuaikan agar lebih mudah diterima lidah lokal yang terbiasa dengan bandrek dan bajigur dengan rasa rempah yang lebih ringan.

Baca Juga:JG Motor Tasikmalaya Andalkan Penjualan Digital, 60 Persen Transaksi Berasal dari OnlinePelajar Bandung Bikin Inovasi Sukun dan Brokoli, Jadi Juara AHM Best Student 2026 Jabar

Penyesuaian itu berbeda dengan pengalaman saat membuka Trem di Semarang. Minuman berbasis rempah, kata Arya, justru lebih mudah diterima karena masyarakat setempat telah terbiasa dengan karakter rasa tersebut.

“Jadi memang budayanya gitu. Budaya orang sana sudah terbiasa dengan minuman rempah. Jadi ketika di Semarang pelanggan saya yang usia SMA juga banyak,” ujarnya.

Kecenderungan terhadap rasa yang familiar, kata Arya, juga terlihat pada makanan khas daerah lain. Ia mencontohkan pempek yang memiliki karakter rasa ikan cukup kuat. Di Tasikmalaya, pempek dengan komposisi aci atau tepung tapioka lebih banyak justru lebih mudah diterima karena karakter rasanya lebih dekat dengan selera lokal.

Hal serupa terlihat pada makanan khas Padang. Cita rasa yang mendekati karakter aslinya tidak selalu menjadi pilihan utama masyarakat Tasikmalaya. Menurutnya, banyak rumah makan Padang di Kota Tasikmalaya yang cita rasanya telah disesuaikan dengan selera masyarakat di kota ini sehingga tidak banyak rumah makan yang memiliki rasa otentik khas minang.

Karakter selera yang khas itu membuat pelaku usaha perlu menerapkan strategi khusus ketika masuk ke pasar Tasikmalaya. Menurut Arya, masyarakat lokal bukan berarti menolak cita rasa otentik dari daerah lain, tetapi belum terbiasa dengan karakter rasa yang berbeda dari makanan dan minuman yang selama ini mereka konsumsi.

0 Komentar