TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Mahasiswa Universitas Perjuangan (Unper) Tasikmalaya diingatkan tidak menjalani masa kuliah sekadar datang ke kampus, mengikuti pembelajaran, kemudian pulang atau sering disebut sebagai mahasiswa kupu-kupu. Masa pendidikan di perguruan tinggi perlu dimanfaatkan untuk mengembangkan diri melalui berbagai pengalaman di luar perkuliahan.
Pesan itu disampaikan Anggota Pembina Yayasan Universitas Siliwangi (YUS) Mayjen TNI (Purn) H Dedi Kusnadi Thamim kepada 1.168 mahasiswa baru saat pembukaan kegiatan Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) di lapangan utama kampus, Selasa (15/9/2026).
Dedi menilai kehidupan kampus menyediakan ruang yang lebih luas bagi mahasiswa untuk menggali pengalaman. Karena itu, proses pendidikan tidak semestinya hanya berorientasi pada penyelesaian perkuliahan hingga memperoleh gelar sarjana.
Baca Juga:Didemo Mitra di Tasikmalaya, Maxim Indonesia Klarifikasi Soal Potongan Driver, Sebut Komisi 0–8 PersenDugaan Guru di Tasikmalaya Jadi Pengepul Maba Unsoed, AMI: Jangan Biarkan Pendidikan Jadi Lapak Transaksi
“Dia punya kemandirian dirinya, dia punya karakter di dalamnya sendiri untuk siap menghadapi segala persoalan di luar kampus setelah dia lulus,” kata Dedi saat ditemui usai acara.
Kemandirian dan karakter itu menjadi bekal penting ketika mahasiswa memasuki kehidupan setelah perguruan tinggi. Terlebih, bonus demografi akan membuat jumlah penduduk usia produktif menjadi besar, sehingga lulusan perguruan tinggi juga menghadapi persaingan yang semakin ketat untuk mendapatkan ruang di dunia kerja.
Kondisi tersebut membuat mahasiswa perlu memiliki kemampuan yang lebih dari sekadar capaian akademik. Pengalaman berorganisasi, berinteraksi, mengembangkan potensi, dan menghadapi berbagai persoalan selama berada di kampus dapat menjadi bagian dari proses pembentukan kesiapan tersebut.
Dedi kemudian mengaitkan kesiapan mahasiswa dengan target Indonesia Emas 2045. Menurutny, mahasiswa yang sedang menempuh pendidikan saat ini akan menjadi bagian dari generasi produktif pada periode tersebut.
Ia meyakini target Indonesia Emas 2045 harus disiapkan melalui proses yang berlangsung sejak sekarang. Persiapan itu melibatkan generasi yang saat ini sedang menempuh pendidikan maupun generasi sebelumnya.
“Harus yakin. Dengan segala persiapan dari generasi-generasi sebelumnya. Kurang tinggal 19 tahun lagi menuju 2045,” ujarnya.
Menurut Dedi, bonus demografi memiliki sisi kelebihan sekaligus kekurangan. Besarnya jumlah penduduk usia produktif menjadi potensi, tetapi potensi itu membutuhkan kesiapan agar dapat benar-benar mengambil peran dalam kehidupan masyarakat dan pembangunan.
