KAMMI juga mendorong agar pengembangan kereta api lokal tidak dibatasi oleh sekat administratif Kota Tasikmalaya.
Sebab, mobilitas masyarakat tidak mengenal batas wilayah pemerintahan. Karena itu, gagasan yang muncul dalam audiensi tersebut adalah pembentukan forum bersama lintas daerah di kawasan Priangan Timur.
Forum itu nantinya dapat melibatkan Kota Tasikmalaya, Kabupaten Tasikmalaya, Kabupaten Ciamis, Kota Banjar hingga Kabupaten Garut.
Baca Juga:Konfercab HMI Tasikmalaya Masuk Uji Publik, Lima Kandidat Berebut Kursi KetuaBaraya GHN Cimerak Cup II Tasikmalaya Gali Potensi Ganda Putera Masa Depan! Diikuti 233 Pasangan
Tujuannya membahas konektivitas regional dan peluang pengembangan layanan kereta api lokal secara bersama-sama.
Bagi KAMMI, pendekatan kawasan jauh lebih penting karena kereta api lokal tidak hanya melayani satu kota.
Jalur tersebut dapat menghubungkan pusat-pusat ekonomi, pendidikan, pelayanan publik dan kesempatan kerja di sejumlah wilayah.
Jika terealisasi, transportasi berbasis rel juga dinilai dapat mengurangi ketergantungan terhadap kendaraan pribadi dan membuat mobilitas masyarakat lebih efisien.
KAMMI Tasikmalaya menegaskan akan terus mengawal isu integrasi transportasi tersebut sebagai bagian dari advokasi kebijakan publik.
Audiensi 14 September menjadi langkah awal. Tantangan berikutnya adalah memastikan respons positif itu berubah menjadi kajian, rekomendasi resmi dan keputusan kebijakan.
Sebab, kereta api lokal pada akhirnya bukan hanya perkara rel yang terbentang dan stasiun yang berdiri.
Baca Juga:Tarung Derajat Masuk Dunia Kerja, Satlatsus BRISPA Tasikmalaya Bentuk Insan Perbankan yang TangguhKADIN Jabar Minta Drama Mukota Kota Tasikmalaya Tamat, Abdul Karim Ditagih Kerja Nyata
Yang dibutuhkan masyarakat adalah kereta yang benar-benar datang, bukan sekadar wacana yang kembali berangkat. (rezza rizaldi)
