PKL Dadaha Masih Kebingungan, Belum Siap Berjualan di Lapak Baru Sebagaimana Arahan Tim Penataan Pemkot Tasikm

pkl dadaha
Area trek jogging yang sudah disterilkan dari Pedagang Kaki Lima (PKL), beberapa waktu lalu. (Foto: Ujang Nandar/Radar Tasikmalaya)
0 Komentar

TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Penertiban pedagang kaki lima (PKL) di kawasan jogging track Kompleks Olahraga Dadaha, Kota Tasikmalaya, mulai berdampak terhadap aktivitas ekonomi para pedagang. Sejumlah pedagang mengaku kehilangan lokasi strategis untuk mencari nafkah setelah dilarang berjualan di area tersebut.

Salah seorang pedagang, Asep, mengatakan dirinya bahkan sudah lebih dari 10 hari tidak berjualan karena lokasi yang selama ini menjadi tempatnya mencari penghasilan tidak lagi diperbolehkan digunakan untuk berdagang.

“Setelah dilarang, saya sudah 10 hari lebih tidak jualan karena tidak ada tempat. Kami juga tidak mungkin berjualan di sembarang tempat,” kata Asep.

Baca Juga:Mukota Kota Tasik Ditunda, Ada KADIN Jabar di Pusaran Cerita!MBK Ventura Dorong Terwujudnya Keluarga Sehat, Cerdas dan Sejahtera di Cisayong Kabupaten Tasikmalaya

Menurutnya, penghentian aktivitas berjualan tersebut secara langsung membuat dirinya kehilangan pemasukan. Kondisi serupa juga dirasakan sejumlah pedagang lainnya yang masih berjualan dengan berpindah ke lokasi yang dinilai kurang strategis.

Asep mengatakan, pemerintah sebenarnya telah menyediakan sejumlah lokasi yang dapat digunakan sebagai alternatif bagi para pedagang. Namun, menurutnya, lokasi yang ditawarkan belum sepenuhnya mampu menjadi solusi karena terlalu sempit sehingga sulit menampung para pedagang secara layak.

Seperti halnya lingkungan GOR yang menurut pedagang selama ini kerap digunakan sebagai area parkir. Kondisi tersebut membuat pedagang kesulitan untuk menjadikan lokasi tersebut sebagai tempat berjualan secara tetap.

“Lokasinya selain sempit, khusus yang dekat GOR itu juga selalu digunakan untuk parkir,” katanya.

Ia juga menyinggung keberadaan shelter yang ditawarkan sebagai salah satu alternatif. Menurutnya, kondisi shelter tersebut belum memungkinkan untuk digunakan sebagai tempat berdagang karena selama ini lebih banyak dimanfaatkan sebagai gudang.

“Kalau untuk shelter, kondisinya memang tidak memungkinkan untuk jualan karena selama ini digunakan sebagai gudang,” ujarnya.

Asep berharap sebelum lokasi relokasi yang layak dan pasti tersedia, mereka berharap masih diperbolehkan berjualan di jogging track, khususnya pada Sabtu dan Minggu.

Baca Juga:Kadin, Kursi Rp100 Juta dan Kartu Merah!Malik Mahpud dan Burung Macaw!

“Minimal kami bisa berjualan pada hari Sabtu dan Minggu,” katanya.

Ia juga mempertanyakan alasan kawasan jogging track harus sepenuhnya steril dari aktivitas pedagang dengan alasan kawasan tersebut diperuntukkan sebagai tempat olahraga.

0 Komentar