TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Persoalan yang dihadapi masyarakat tidak cukup hanya diketahui, tetapi perlu didengar langsung dari mereka yang mengalaminya.
Prinsip itu dibawa Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Komisariat Universitas Islam Tasikmalaya (Unitas) ketika turun ke Kampung Tanjungsari, Desa Nagaratengah, Kecamatan Cineam, Kabupaten Tasikmalaya, Sabtu (5/9/2026).
Melalui agenda Sapa Isu Daerah, kader PMII membuka ruang untuk mendengarkan berbagai persoalan yang berkembang di tengah masyarakat. Aspirasi tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai bahan obrolan, tetapi dapat dibawa ke ruang diskusi hingga menjadi bagian dari gerakan mahasiswa.
Baca Juga:35 Tahun Primajasa: ETA, Disiplin, dan Jalan Pengabdian H. Amir MahpudPeriksa Saksi Tragedi Cilembang, Polres Tasikmalaya Kota Ungkap Fakta Begini
Ketua Rayon Syariah PMII Komisariat Unitas, Muhammad Rifa’i, mengatakan turun langsung ke masyarakat penting agar mahasiswa tidak terjebak dalam pembahasan persoalan sosial hanya dari sudut pandang teori.
“PMII tidak boleh hanya ramai di kampus, tetapi sunyi ketika masyarakat menghadapi persoalan. Kita turun ke masyarakat bukan hanya untuk memberikan santunan, tetapi untuk mendengar. Apa yang mereka rasakan, apa yang mereka butuhkan, dan persoalan apa yang selama ini belum mendapatkan perhatian,” tegasnya.
Menurut dia, keberadaan mahasiswa di tengah masyarakat semestinya tidak ditempatkan sebagai pihak yang datang membawa jawaban atas seluruh persoalan.
Sebaliknya, mahasiswa perlu terlebih dahulu memahami persoalan dari pengalaman masyarakat sebelum menentukan sikap atau langkah yang akan dilakukan.
“Masyarakat jangan hanya dijadikan objek kegiatan. Masyarakat harus ditempatkan sebagai subjek. Kita datang bukan dengan merasa paling tahu, tetapi untuk mendengar dan belajar. Setelah itu, mahasiswa harus mampu membawa suara tersebut ke ruang-ruang diskusi dan ruang kebijakan,” ucap Rifa’i.
Kegiatan tersebut sekaligus dirangkaikan dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dan santunan anak yatim. Namun, bagi PMII Unitas, rangkaian kegiatan itu menjadi pintu masuk untuk membangun kedekatan dengan masyarakat sekaligus memperluas ruang pengabdian kader di luar lingkungan kampus.
Rifa’i mengatakan kedekatan dengan masyarakat menjadi penting dalam proses kaderisasi PMII. Dengan berhadapan langsung dengan realitas sosial, kader tidak hanya dituntut memahami persoalan secara intelektual, tetapi juga memiliki kepekaan untuk melihat kebutuhan masyarakat.
