“Anak muda membutuhkan ruang untuk berekspresi. Jangan sampai jalanan menjadi satu-satunya tempat mereka mencari eksistensi,” tutur Dadang.
Dadang menegaskan, persoalan geng motor juga tidak dapat dibebankan hanya kepada aparat keamanan. Keluarga memiliki peran penting dalam mengetahui pergaulan dan aktivitas anak.
Karena itu, FOSSMA menggagas Forum Orang Tua Peduli Remaja. Forum tersebut diharapkan membantu orang tua membangun komunikasi dengan anak, mengetahui lingkungan pergaulan, mengawasi aktivitas malam serta berkoordinasi apabila muncul tanda-tanda keterlibatan anak dalam kelompok geng motor.
Baca Juga:Payung Geulis Kota Tasikmalaya Unjuk Gigi di FESPIN Solo, Kriya Lokal Bidik Pasar DuniaKunci Rusak, Ahli Gizi Terjebak di Ruangan Kantor SPPG Cigantang Tasikmalaya
Sebab, menurut Dadang, menyelesaikan persoalan anak di jalan tanpa membenahi komunikasi di rumah ibarat memadamkan asap sementara sumber apinya dibiarkan menyala.
Di sisi lain, FOSSMA juga menegaskan tidak ingin mengambil alih tugas kepolisian maupun pemerintah.
FOSSMA memosisikan diri sebagai jembatan antara masyarakat dengan aparat.
Kolaborasi dinilai perlu dibangun bersama kepolisian, TNI, Pemerintah Kota, sekolah, RT/RW, tokoh agama, tokoh pemuda dan orang tua.
Untuk anak yang telah melakukan tindak pidana, Dadang menegaskan penanganannya tetap harus melalui proses hukum yang berlaku dengan memperhatikan ketentuan khusus terhadap anak.
Salah satu gagasan utama FOSSMA adalah program Satu Anak Satu Masa Depan.
Konsep tersebut meliputi tahapan identifikasi, pendekatan, mendengarkan, pembinaan, pemberdayaan hingga pendampingan.
Dadang mengatakan, pola pencegahan tidak boleh berhenti pada larangan. Anak muda harus diberikan pilihan konkret mengenai masa depan mereka.
Baca Juga:Kejar Swasti Saba Wiwerda, Pengelolaan Sampah Rumah Tangga di Kota Tasikmalaya Masih Jadi PR Utama44 Peserta OHAN Hafizh Batch I Diwisuda, Pemkot Tasikmalaya Siapkan Jalur Kuliah dan Beasiswa
“Jangan hanya mengatakan ‘jangan jadi geng motor’. Tetapi berikan alternatif: ‘Kalau tidak geng motor, kamu mau menjadi apa?’” tambahnya.
Alternatif tersebut, lanjut dia, dapat diarahkan melalui pendidikan, keterampilan, pekerjaan, olahraga, agama maupun komunitas positif.
Sebagai langkah konkret, FOSSMA juga menggagas Posko Solusi Pemuda FOSSMA.
Posko itu nantinya dapat menjadi tempat pengaduan dan pendampingan bagi masyarakat maupun anak muda.
Fungsinya antara lain menerima laporan masyarakat, mendata persoalan pemuda, melakukan pendekatan terhadap kelompok berisiko, menghubungkan anak dengan sekolah dan orang tua, memberikan pendampingan serta mengevaluasi perkembangan mereka.
Menurut Dadang, penanganan geng motor membutuhkan kerja bersama dan kesinambungan.
