Ia mengatakan uji coba sudah dilakukan sekitar satu minggu sebelum peresmian pada bulan Agustus dengan dua motor dan enam orang, saat itu kondisinya aman. Namun saat kejadian kemarin diperkirakan ada 40 orang lebih di atas jembatan.
Pembangunan jembatan ini merupakan bagian dari program nasional Presiden RI guna membuka akses fasilitas pendidikan, pertanian, kesehatan, dan pariwisata di wilayah terisolasi. Proyek dikerjakan secara padat karya dan gotong royong bersama masyarakat tanpa sistem kontraktual.
AKSES PENGHUBUNG UTAMA
Kepala Desa Margacinta, Enceng Anwar Solihin menceritakan bahwa jembatan ini menjadi akses utama yang menyambungkan Kecamatan Cigugur dan Kecamatan Cijulang, khususnya antara Desa Cibanten dan Margacinta.
Baca Juga:Ratusan Warga Perum BMM Tasikmalaya Meriahkan HUT RI dengan Fun Walk dan KarnavalSiswa MAN 1 Tasikmalaya Juara OBA Jabar, Syifa Auliya Lolos Nasional
Tak hanya dilalui kendaraan roda dua, jembatan tersebut setiap harinya menjadi jalur angkut komoditas hasil hutan dan kayu oleh para petani di Dusun Margajaya.
“Jembatan ini dibangun pertama kali sejak 1992 dan selama ini hanya tersentuh perbaikan ringan berkala. Kehadiran program rehabilitasi dari Kodim 0625/Pangandaran sebenarnya disambut antusias luar biasa. Hampir 60 persen warga desa hadir saat agenda peresmian karena sangat mendambakan akses yang layak,” jelasnya.
Menurut dia, antusiasme tersebut lantaran Jembatan Pongpet menjadi akses penunjang segala sektor krusial warga, mulai dari akses pendidikan anak sekolah, jalur angkut pertanian, hingga mobilitas warga yang membutuhkan penanganan medis darurat menuju Rumah Sakit Pandega.
“Jika jembatan ini tidak dapat dilalui, warga yang sakit dan harus menggunakan mobil terpaksa memutar rute perjalanan yang cukup jauh,” katanya.
Sementara itu, bila melintas ke arah selatan, warga harus melewati empat desa, yaitu Cibanten, Kertayasa, Cijulang, dan Kondangjajar. Kemudian, jika memilih akses utara, rute memutar melintasi lima desa yaitu Cimindi, Parakanmanggu, Cintakarya, Karangbenda, dan Parigi.
Meskipun menyayangkan musibah yang terjadi saat peresmian bersama jajaran Forkopimda dan Dandim 0625/Pangandaran, Enceng berharap momentum ini menjadi bahan evaluasi serius bagi pemangku kebijakan.
“Warga kami meminta agar pemerintah daerah maupun pusat tidak sekadar memperbaiki kondisi gantungannya, melainkan mempertimbangkan pembangunan jembatan permanen yang representatif guna menampung volume beban lalu lintas harian yang padat dan bermuatan berat,” ucapnyanya
