Dorong Peningkatan Laba Peternak, Unsil Tasikmalaya Kenalkan Teknologi Pengawetan Pakan dan Pemanfaatan Limbah

Unsil Tasikmalaya teknologi Pengolahan pakan ternak
Tim akademisi Unsil Tasikmalaya menunjukkan proses pengolahan pakan supaya bisa diawetkan, awal Agustus 2026. (Foto:Istimewa)
0 Komentar

“Potensi masyarakat sebenarnya sudah cukup kuat. Ada ternak, hijauan pakan yang melimpah, dan limbah ternak yang tersedia setiap hari. Tantangannya adalah bagaimana semua potensi itu dapat diolah dengan teknologi sederhana sehingga memberikan nilai tambah,” ujar Adil.

Salah satu teknologi yang diperkenalkan adalah pengolahan hijauan menjadi pakan awetan.

Dalam prosesnya, hijauan terlebih dahulu dicacah menggunakan mesin. Setelah itu, bahan pakan dicampur dengan bahan pendukung dan menjalani proses fermentasi atau pengawetan.

Baca Juga:Kuatkan UMKM Rajapolah Tasikmalaya, Dorong Produk Lokal Naik Kelas Kuasai Pasar DigitalPendapatan Daerah Menyempit, TPP Kota Tasik Melompat!

Mesin pencacah yang digunakan memiliki kapasitas sekitar 250 kilogram per jam, sehingga dapat membantu peternak mengolah hijauan dalam jumlah cukup besar secara lebih cepat.

Teknologi tersebut diharapkan menjadi solusi ketika hijauan sedang melimpah. Rumput yang tidak langsung diberikan kepada ternak dapat diproses dan disimpan sehingga bisa digunakan sebagai cadangan pada waktu tertentu.

“Ketika hijauan sedang banyak, masyarakat tidak harus membiarkannya terbuang. Kelebihan hijauan bisa diolah dan diawetkan untuk digunakan ketika dibutuhkan,” kata Adil.

Program pengabdian UNSIL juga memperkenalkan teknologi pemanfaatan limbah ternak. Kotoran sapi, kambing, dan domba diarahkan untuk dikumpulkan dan difermentasi sehingga dapat diolah menjadi pupuk organik.

Pupuk yang dihasilkan dapat dimanfaatkan untuk lahan pertanian masyarakat. Tidak hanya untuk kebutuhan sendiri, produk tersebut juga memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi komoditas yang dapat memberikan pendapatan tambahan.

Dengan demikian, peternakan tidak hanya menghasilkan ternak dan kotoran sebagai limbah, tetapi dapat menciptakan produk turunan yang memiliki manfaat ekonomi.

Konsep tersebut juga mendorong masyarakat untuk menerapkan sistem usaha yang lebih efisien. Sisa dari satu aktivitas dapat dimanfaatkan untuk mendukung kegiatan lainnya.

Baca Juga:Mahasiswa KKN UNITAS Rajapolah Tasikmalaya Asah Citra Diri dan Komunikasi Publik Siswa SMKTaktik Pemicu Polemik! Penutupan Jalur Utama Dadaha Tasikmalaya Rawan Mendatangkan PKL Baru

Adil mengatakan, peternakan perlu mulai dikelola sebagai kegiatan ekonomi yang memiliki perhitungan jelas.

“Yang ingin kami bangun bukan hanya keterampilan membuat pakan atau pupuk. Kami juga ingin masyarakat mulai melihat peternakan sebagai usaha yang perlu dicatat, dihitung, dan dikembangkan. Dengan begitu, peternak dapat mengetahui biaya dan potensi pendapatannya,” tuturnya.

Kehadiran berbagai mitra dalam kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat kolaborasi. UNSIL berharap keterlibatan masyarakat, kelompok tani, pemerintah dan mitra pendukung dapat membantu memastikan program tetap berjalan setelah pendampingan berakhir.

0 Komentar