PANGANDARAN, RADARTASIK.ID-Pasangan suami istri Kusmayadi (53) dan Yuli Yulianti (38) di Desa/Kecamatan Kalipucang saat ini tengah meratapi kondisi dinding rumahnya yang jebol di bagian belakang. Kerusakan bangunan tersebut disebutkan berawal saat gempa pada 5 Agustus 2026 yang menimbulkan retakan.
Kondisi bangunan permanen yang dihuni enam jiwa itu cukup memprihatinkan. Dinding bagian belakang rumah jebol dan materialnya berserakan di lantai. Sebagian puing dinding yang runtuh telah dikumpulkan oleh pemilik rumah.
Tembok dindingnya di kedua sisinya pun sudah mengalami retakan selebar 2cm. Hal itu membuat Kusmayadi, istrinya, dan empat anak mereka terpaksa berkumpul dan tinggal di bagian depan rumah yang dinilai masih aman.
Baca Juga:Tidak Hanya Modal Tiup Peluit, Juru Parkir Digital Kota Tasikmalaya Berbeda Jauh dengan Jukir IlegalAwal Mula TPP Dipotong: Pernah Ada Skenario 50 Persen dan 10 Persen!
Kusmayadi mengatakan, awalnya tembokan rumah mengalami retak-retak akibat gempa bumi tersebut. “Waktu kejadian, kebetulan kita dan anak-anak tidak ada di rumah,” ungkapnya Kamis (20/8/2026)
Menurutnya, kerusakan bermula dari retakan yang muncul setelah gempa. Seiring waktu, retakan tersebut semakin melebar hingga akhirnya dinding bagian belakang roboh.
“Jadi saat kejadian saya tidak tahu, tahu-tahu dinding rumah sudah ambruk. Cuma awal-awalnya dari getaran gempa, retakannya makin lama makin besar, makin lebar dan akhirnya ambruk kemarin,” katanya.
Kusmayadi menyebut bagian yang mengalami kerusakan berada di area kamar dan belakang ruang makan. Sementara bagian depan rumah masih dalam kondisi relatif aman.
Kusmayadi yang bekerja sebagai sopir ambulans hanya berpenghasilan sekitar Rp1,8 juta per bulan. Sedangkan istrinya merupakan ibu rumah tangga. “Tempat hunian sementara di depan, ngumpul semua,” ucapnya.
Camat Kalipucang Ruhendi mengatakan, berdasarkan laporan yang diterima pemerintah kecamatan, baru terdapat satu rumah warga yang dilaporkan terdampak gempa. Namun, menurut Ruhendi, kerusakan rumah tersebut tidak sepenuhnya disebabkan oleh gempa. Bagian belakang bangunan disebut sudah dalam kondisi lapuk sebelumnya. “Yang satu pun tidak serta-merta terdampak gempa karena kondisi rumah sebelumnya sudah lapuk bagian belakang,” ujarnya.
Bagian dinding tersebut juga tidak memiliki struktur penahan yang memadai. Getaran gempa diduga memperparah retakan hingga beberapa hari kemudian dinding akhirnya roboh.
Baca Juga:Di Balik TPP 20 Persen: Potongan, Pinjaman, atau Siasat Anggaran!Uji Coba Lagi, E-Retribusi Parkir Tepi Jalan Kota Tasikmalaya Belum Diterapkan Total
“Kemudian dinding temboknya itu tidak ada tahanan. Mungkin saja ketika ada gempa terjadi retak dan beberapa hari kemudian terjadilah ambruk atau roboh,” kata Ruhendi.
