“Kami susah payah membangun citra rumah sakit, tetapi bisa dirusak oleh satu orang. Ini menjadi introspeksi bagi kami semua,” tegasnya.
Ia mengaku selama ini manajemen rutin mengingatkan seluruh pegawai agar bijak menggunakan media sosial, terutama saat menanggapi keluhan masyarakat mengenai pelayanan kesehatan.
“Kami selalu mengingatkan dalam apel agar berhati-hati bermedia sosial. Ketika menghadapi keluhan masyarakat, yang dibutuhkan adalah kebijaksanaan, bukan penghakiman. Karena kalau sudah terjadi seperti ini, tentu harus ada tindakan tegas,” tambahnya.
Baca Juga:SMKN 3 Tasikmalaya Tembus 10 Besar FTRN Nasional, Teater Gawe Buktikan Kreativitas Tak TerbatasKolaborasi dengan ATR/BPN Jadi Strategi Pemkot Tasikmalaya Perkuat Tata Kelola untuk Dongkrak PAD
Kasus ini menjadi pelajaran bahwa seragam boleh dilepas setelah jam kerja, tetapi etika tidak ikut pulang. Di ruang digital, identitas pribadi kerap melekat pada institusi.
Ketika empati kalah oleh jemari, bukan hanya nama individu yang dipertaruhkan, melainkan juga kepercayaan publik terhadap pelayanan yang semestinya menghadirkan rasa aman bagi masyarakat. (rezza rizaldi)
