GARUT, RADARTASIK.ID – Potensi kekeringan panjang selama musim kemarau mulai memberikan dampak serius terhadap Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Pasirbajing.
Suhu udara yang panas memicu timbulnya letupan-letupan api di titik tumpukan sampah akibat reaksi gas metan sehingga menimbulkan kebakaran.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Garut Jujun Juansyah menyebut bahwa kemarau tahun ini berpotensi meningkatkan risiko kebakaran di areal TPA.
Baca Juga:Dorong Jalan Pamegatan-Singajaya Garut Masuk Status Jalan ProvinsiKawasan Pasar Baru Garut Akan Direnovasi, PKL Dipindahkan Sementara
Ia mengungkapkan, letupan-letupan api skala kecil sudah mulai bermunculan hampir setiap hari di beberapa titik kawasan TPA Pasirbajing.
“Itu memang sudah terjadi. Walaupun skalanya kecil, hampir setiap hari ada letupan-letupan api,” ucapnya, Senin 3 Agustus 2026.
Jujun Juansyah menjelaskan, fenomena timbulnya api disebabkan oleh interaksi antara gas metan yang dihasilkan tumpukan sampah organik di lapisan bawah dengan suplai oksigen berlebih di bagian permukaan.
Ia menyebut, dua hal itu lah yang membuat letupan-letupan api sehingga menyebabkan kebakaran.
“Pemicunya ada dua faktor utama, yaitu pasokan oksigen di bagian atas dan keberadaan gas metan di bagian bawah. Ini terjadi akibat sistem TPA yang masih menerapkan pola open dumping,” katanya.
Meskipun demikian, Jujun memastikan hingga saat ini luasan area yang terbakar masih tergolong kecil dan tersebar secara sporadis di 2–3 titik.
Pihaknya terus memantau pergerakan titik api agar tidak meluas ke area yang lebih besar.
Baca Juga:Penerangan Jalan Umum Mati, Jalur RTA Prawira Adiningrat Tasikmalaya Dinilai Rawan KecelakaanSiap-Siap! Bakal Ada Mudik Gratis di Garut, Segini Kuota yang Tersedia
“Kalau luasan tepatnya secara kumulatif, terus terang saya belum menghitung secara pasti. Namun yang jelas letupannya kecil-kecil dan tersebar di dua hingga tiga titik,” tambahnya.
Sebagai langkah penanganan cepat (mitigasi), pihaknya bekerja sama dengan Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) untuk memadamkan serta menekan potensi penyebaran api.
Ia menjelaskan, penanganan dilakukan dengan dua metode utama, yakni pengurugan tanah (cover soil) dan penyiraman air secara berkala.
Langkah penanganan ekstra diambil lantaran kepulan asap akibat letupan sampah tersebut mulai mengganggu serta mengancam kenyamanan pemukiman warga yang berada di sekitar kawasan TPA.
“Sejak kemarin malam letupan api terus terjadi dan kepulan asapnya mulai berpotensi mengancam kenyamanan warga. Karena itu, kita lakukan upaya seoptimal mungkin dengan pengurugan tanah dan penyiraman armada Damkar agar tidak menambah kepekatan asap,” katanya.
