TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Gejolak internal Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Tasikmalaya kembali mencuat.
Sekretariat HMI Cabang Tasikmalaya didatangi aksi demonstrasi para kader pada Jumat (24/7/2026) malam.
Aksi tersebut menyoroti belum bergulirnya pergantian kepengurusan yang dinilai telah melampaui masa jabatan dan berdampak pada mandeknya proses kaderisasi.
Baca Juga:Pengangguran Masih Tinggi, Pemkot Tasikmalaya Kirim Delapan Pencari Kerja ke JepangProgram KEJAR Sumedang Cetak 4.761 Rekening Pelajar, OJK Dorong Inklusi Keuangan Sejak Dini
Ketua Umum HMI Komisariat IAIT, Asep Solahudin Sobari, menegaskan aksi tersebut merupakan inisiatif murni kader dari keluarga besar Komisariat Universitas Islam Tasikmalaya (Unitas), tanpa ditunggangi kepentingan pihak lain.
Menurut dia, kepengurusan HMI Cabang Tasikmalaya semestinya telah berakhir pada Maret 2026.
Namun hingga memasuki akhir Juli, pergantian kepengurusan belum juga terlaksana.
“Ini menjadi persoalan serius karena menghambat jalannya organisasi, terutama dalam aspek kaderisasi. Padahal HMI merupakan organisasi pengkaderan yang memiliki amanat untuk terus menjalankan proses regenerasi,” ujar Asep kepada Radar.
Ia mengungkapkan, sebelum aksi digelar, kader telah berupaya menyampaikan aspirasi melalui diskusi dan komunikasi internal.
Namun, berbagai upaya tersebut dinilai tidak mendapatkan respons yang memadai dari pengurus cabang.
“Kami melakukan aksi sebagai bentuk kekecewaan karena komunikasi yang dilakukan tidak direspons dengan baik,” katanya.
Asep menjelaskan, secara organisatoris HMI Cabang Tasikmalaya sebenarnya telah melaksanakan Pleno II sebagai bagian dari tahapan menuju Konferensi Cabang.
Baca Juga:JNE Content Competition 2026 Catat 5.273 Karya, Kompetisi Kreatif Anak Bangsa Makin KompetitifTiga Anak Hilang Ditemukan Selamat, Hari Anak Nasional Jadi Momentum Perkuat Pengawasan Orang Tua
Namun proses itu disebut belum dapat berlanjut karena Pleno II Korps HMI-Wati (KOHATI) Cabang Tasikmalaya belum terlaksana.
Ia bahkan menduga kondisi tersebut berkaitan dengan keinginan mempertahankan periodisasi kepengurusan menjelang agenda Kongres HMI dan Musyawarah Nasional KOHATI di tingkat Pengurus Besar HMI.
“Kami melihat ada upaya melanggengkan periodisasi. Karena itu kami memilih bersikap agar organisasi ini segera dibenahi,” ucapnya.
Menurut Asep, jika persoalan tersebut terus dibiarkan, kader-kader baru hasil Latihan Kader I (LK I) akan kehilangan arah dalam memahami nilai dan mekanisme organisasi.
Bahkan ia mengingatkan jangan sampai kader baru hanya menjadi pelengkap kepentingan politik internal.
“Kalau tidak segera dibenahi, kader baru bisa kehilangan gambaran tentang HMI yang sesungguhnya. Jangan sampai mereka hanya menjadi komoditas untuk kepentingan politis,” tegasnya.
