TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Tim Dosen Jurusan Kebidanan Poltekkes Kemenkes Tasikmalaya menggelar kegiatan pengabdian kepada masyarakat bagi 54 kader Posyandu di wilayah kerja Puskesmas Parakanyasag, Kecamatan Indihiang, Kota Tasikmalaya, pada 12 Juni 2026. Kegiatan tersebut mengusung implementasi media video animasi Cara Meneran Efektif (Carentik) sebagai upaya mencegah ruptur perineum pada ibu bersalin.
Kegiatan dipimpin Sri Gustini SST MKeb dan Qanita Wulandara SST MKeb, serta melibatkan mahasiswa Program Studi Kebidanan Poltekkes Kemenkes Tasikmalaya. Hadir pula Kepala Puskesmas Parakanyasag H Cece Nurdin SKep Ners MM, bidan kelurahan, serta narasumber Yanti Yulianti STrKeb dan Anita Kurniati STrKeb.
Ketua Tim Pengabdian Masyarakat Sri Gustini menjelaskan, proses meneran pada kala II persalinan menjadi fase penting karena berpengaruh terhadap risiko robekan pada perineum. Menurutnya, teknik meneran yang tidak tepat dapat meningkatkan risiko terjadinya ruptur perineum.
Baca Juga:Dituding Sebabkan Kekeringan Irigasi Pertanian di Tasikmalaya, BBWS Citanduy Beri Penjelasan BeginiSaat Bupati dan Wakil Tidak Berebut Cahaya
Ia menerangkan, ruptur perineum merupakan robekan pada area antara vulva dan anus yang kerap terjadi saat persalinan. Salah satu faktor penyebabnya adalah teknik meneran yang kurang efektif. Risiko tersebut dapat dikurangi melalui edukasi mengenai teknik meneran yang benar.
Sri Gustini menambahkan, perkembangan teknologi memungkinkan penyampaian edukasi kesehatan melalui media audio visual yang lebih mudah dipahami. Karena itu, video Carentik dimanfaatkan sebagai media pembelajaran agar informasi mengenai teknik meneran efektif dapat diterima dengan lebih baik.
Berdasarkan studi pendahuluan di wilayah kerja Puskesmas Parakanyasag, pada 2023 terdapat 295 ibu bersalin. Dari jumlah tersebut, 150 orang atau 50,8 persen mengalami ruptur perineum.
“Hasil wawancara pada bidan di wilayah kerja Puskesmas Parakannyasag, mengatakan bahwa belum ada upaya khusus untuk pencegahan rupture perineum yang dilakukan sebelum persalinan. Pada saat ini upaya pencegahan rupture perineum dilakukan pada saat proses persalinan dengan cara menahan perineum pada kala II,” katanya kepada Radar Tasikmalaya, Jumat (17/7/2026).
Melihat kondisi tersebut, Poltekkes Kemenkes Tasikmalaya berupaya meningkatkan peran kader Posyandu sebagai pendamping ibu hamil. Di wilayah kerja Puskesmas Parakanyasag terdapat sekitar 200 kader Posyandu yang dinilai dapat diberdayakan untuk mendampingi ibu hamil dalam mempersiapkan persalinan dan mencegah perdarahan pascapersalinan akibat ruptur perineum.
