Jurnalis Italia Dukung Langkah Maldini Tunjuk Pirlo Jadi Pelatih Timnas: Contohkan Spanyol dan Argentina

Andrea Pirlo
Andrea Pirlo Foto: Tangkapan layar Instagram@andreapirlo21
0 Komentar

Pelatih mampu berperan sebagai ayah, kakak, sahabat, sekaligus sosok yang membantu setiap pemain berkembang.

Sebaliknya, ia menilai banyak pelatih sukses di level klub justru kesulitan ketika menangani tim nasional.

Waktu persiapan yang terbatas membuat pendekatan yang terlalu berorientasi pada detail taktik sering kali tidak efektif.

Baca Juga:Gaji Jadi Penyebab Dimarco Enggan Perpanjang Kontrak dengan Inter MilanOperasi Rahasia Juventus Sukses Curi Zeki Celik dari AS Roma

Menurutnya, melatih tim nasional lebih membutuhkan kemampuan membaca situasi, memahami karakter pemain, membangun empati, serta mengambil keputusan pada momen-momen penting dibanding sekadar menyusun strategi permainan.

Distaso juga mengingatkan bahwa sejarah Timnas Italia telah memberikan banyak contoh keberhasilan pelatih yang mengutamakan kekuatan kelompok.

Nama-nama seperti Enzo Bearzot, Marcello Lippi, dan Roberto Mancini mampu membawa Azzurri meraih prestasi karena lebih dulu membangun hubungan antarmanusia sebelum memikirkan aspek teknis permainan.

Atas dasar itu, ia menilai Andrea Pirlo tidak layak dipandang sebelah mata apabila benar-benar ditunjuk sebagai pelatih baru Italia.

Menurut Distaso, banyak pihak terlalu cepat meragukan kemampuan Pirlo hanya karena pengalaman kepelatihannya belum sepanjang nama-nama besar lain.

Padahal, contoh Spanyol dan Argentina menunjukkan bahwa keberhasilan sebuah tim nasional lebih ditentukan oleh kualitas proyek yang dibangun daripada besarnya nama pelatih.

Ia juga menyebut peran Paolo Maldini, Leonardo, serta presiden federasi baru Giovanni Malagò akan sangat penting dalam membangun kembali fondasi sepak bola Italia.

Baca Juga:AC Milan Butuh Dana Transfer Rp3 Triliun, Leao Masuk Daftar Cuci GudangKesal dengan Tawaran Gaji Udinese, Zaniolo Ditawarkan ke Juventus dan AC Milan

Menurutnya, Spanyol berhasil menjadi acuan dunia karena memiliki sistem pembinaan pemain yang kuat sejak usia dini.

Sementara Argentina membangun identitas melalui rasa kebersamaan, nasionalisme, dan dedikasi luar biasa terhadap Lionel Messi.

Italia, kata Distaso, memang belum memiliki kondisi untuk meniru salah satu model tersebut sepenuhnya.

Namun, justru karena itulah federasi harus berani melakukan revolusi tanpa kompromi setelah tiga kali gagal lolos ke Piala Dunia dalam dua dekade terakhir.

Sebagai penutup, Distaso kembali menegaskan bahwa masa depan Timnas Italia tidak boleh ditentukan hanya berdasarkan popularitas seorang pelatih.

“Spanyol dan Argentina mengajarkan bahwa yang lebih penting daripada nama pelatih adalah ide, proyek, dan orang-orang yang mampu mewujudkannya,” paparnya.

0 Komentar