Ia menilai para pemain Argentina, termasuk Leandro Paredes dan rekan-rekannya, bermain dengan intensitas sangat tinggi dalam setiap perebutan bola.
Sayangnya, wasit Ismail Elfath kurang mampu mengendalikan jalannya pertandingan.
Sabatini menyebut wasit asal Maroko yang kini berkewarganegaraan Amerika Serikat itu seharusnya lebih tegas dalam mengambil keputusan.
Bahkan ia berpendapat laga semifinal Piala Dunia seharusnya dipimpin oleh wasit dengan pengalaman dan kewibawaan yang lebih besar.
Baca Juga:Messi Hanya Butuh 90 Menit Lagi untuk Menangkan Ballon d'Or ke-9Inter Milan Sulit Cari Pengganti Dumfries: Djed Spence Harganya Naik Tiga Kali Lipat, Cristian Romero Mahal
Setelah kebobolan lebih dulu melalui gol Anthony Gordon, Argentina mulai meningkatkan tempo permainan. Pada fase inilah Messi mengambil alih kendali pertandingan.
Setiap serangan penting Argentina hampir selalu berawal dari kaki pemain berusia 39 tahun tersebut. Kreativitasnya membuat pertahanan Inggris terus berada dalam tekanan.
Sabatini juga mengkritik keputusan Lionel Scaloni yang baru memasukkan Lautaro Martinez pada menit ke-81.
Menurutnya, penyerang Inter Milan itu seharusnya dimainkan lebih cepat mengingat Argentina telah berkali-kali menciptakan peluang berbahaya.
Sebelum gol kemenangan Lautaro tercipta, Argentina sebenarnya sudah beberapa kali mengancam gawang Jordan Pickford.
Kiper Inggris itu sempat melakukan sejumlah penyelamatan gemilang, sementara tendangan Alexis Mac Allister juga membentur tiang gawang.
Gol spektakuler Enzo Fernandez akhirnya menjadi titik balik kebangkitan Argentina sebelum Lautaro Martinez memastikan kemenangan 2-1 yang membawa Albiceleste ke final.
Inggris Kehilangan Kendali Setelah Unggul
Baca Juga:Amorim Cari Otak Serangan Baru: Petinggi AC Milan Tak Cocok dengan Pilihan IbarhimovicInggris vs Argentina: Scaloni Ingin Matikan Bellingham dan Kane
Di bagian akhir ulasannya, Sabatini menyoroti sejumlah keputusan Thomas Tuchel yang dianggap merugikan Inggris.
Menurutnya, Harry Kane sudah berjuang keras sepanjang pertandingan, tetapi Jude Bellingham gagal memberikan pengaruh besar di lini tengah.
Sementara itu, Anthony Gordon justru ditarik keluar terlalu cepat meski tampil cukup efektif.
Namun, kesalahan terbesar Tuchel adalah perubahan pendekatan permainan setelah Inggris unggul 1-0.
Alih-alih terus menekan, pelatih asal Jerman itu memilih menginstruksikan timnya bertahan total untuk mempertahankan keunggulan.
Strategi tersebut justru menjadi bumerang. Inggris kehilangan inisiatif serangan dan membiarkan Argentina terus menguasai bola hingga akhirnya mampu mencetak dua gol balasan.
Bagi Sabatini, keputusan membangun “benteng pertahanan” terlalu dini menjadi penyebab utama Inggris gagal mempertahankan keunggulan.
