“De la Fuente membesarkan dan membina Oyarzabal sejak tim junior. Begitu pula Unai Simón, sosok yang sering terlupakan tetapi sangat fundamental bagi permainan Spanyol,” ungkap Sabatini.
Bagi Sabatini, keberhasilan Spanyol tidak hanya lahir dari bakat individu, melainkan dari sistem pembinaan yang terstruktur mulai dari akademi hingga tim nasional senior.
Para pemain dibentuk dengan filosofi yang sama sehingga proses adaptasi ketika naik ke level tertinggi berlangsung lebih mudah.
Baca Juga:Sabatini Sarankan Paolo Maldini Contek Spanyol: Bangun Timnas Italia dari Akademi hingga Tim SeniorAS Roma Buru Alejandro Garnacho, Gasperini Pasrah Kehilangan Manu Kone
Ia menilai model seperti inilah yang seharusnya menjadi inspirasi bagi Italia.
Fokusnya bukan sekadar meniru gaya bermain Spanyol, tetapi membangun kesinambungan pembinaan pemain sejak usia muda hingga siap memperkuat tim nasional senior.
Kemenangan 2-0 atas Prancis menjadi bukti nyata efektivitas sistem tersebut.
Di saat Les Bleus gagal menampilkan performa terbaik para pemain bintangnya, Spanyol justru tampil sebagai sebuah tim yang solid, disiplin, dan mampu menjalankan rencana permainan dengan sempurna.
Kini, La Furia Roja melangkah ke final Piala Dunia 2026 dengan kepercayaan diri tinggi.
Di balik sorotan yang terus mengarah kepada Lamine Yamal, Sabatini mengingatkan bahwa keberhasilan Spanyol sesungguhnya juga ditopang oleh peran krusial Oyarzabal dan Unai Simón, dua pemain yang disebutnya sebagai senjata rahasia di balik dominasi tim asuhan Luis de la Fuente.
