Menurunkan Satu Digit Kemiskinan Kota Tasik Tak Sesederhana Menekan Angka Statistik

angka kemiskinan Kota Tasikmalaya
Kepala BPS Kota Tasikmalaya Agung Hartadi. Rezza Rizaldi / Radar Tasikmalaya
0 Komentar

TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Target Pemerintah Kota Tasikmalaya menurunkan angka kemiskinan menjadi satu digit ternyata tidak sesederhana menekan angka statistik.

Di balik target ambisius tersebut, Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Tasikmalaya mengingatkan bahwa persoalan yang dihadapi jauh lebih rumit karena kemiskinan di Kota Resik tidak hanya tinggi, tetapi juga “dalam” dan menyebar.

Kepala BPS Kota Tasikmalaya Agung Hartadi menjelaskan kemiskinan bukan sekadar persoalan rendahnya pendapatan masyarakat.

Baca Juga:Sidang Lengkap IV Dewan Hisbah, Ketum Persis: Fatwa Harus Jadi Solusi Umat di Era ModernDivonis PN Tasikmalaya Setahun, Content Creator SL Langsung Terima Putusan

Kemiskinan merupakan ketidakmampuan memenuhi kebutuhan dasar atau basic needs approach, sebagaimana konsep yang digunakan BPS dan direkomendasikan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Menurutnya, seseorang dikategorikan miskin apabila pengeluaran per kapitanya berada di bawah garis kemiskinan yang dihitung berdasarkan kebutuhan makanan setara 2.100 kilokalori per hari ditambah kebutuhan nonmakanan.

“Di Kota Tasikmalaya garis kemiskinan tahun 2025 berada di sekitar Rp591 ribu per kapita per bulan. Kalau satu keluarga beranggotakan lima orang, berarti kebutuhan minimumnya sekitar Rp3 juta per bulan. Di bawah itu masuk kategori miskin,” ujar kepada Radar, Rabu (8/7/2026).

Terang dia yang ditemui di kantornya, masih banyak pekerja sektor informal di Kota Tasikmalaya maupun buruh harian pertanian yang pendapatannya belum mencapai angka tersebut.

Bahkan ada yang hanya memperoleh Rp50 ribu hingga Rp70 ribu per hari dengan jumlah tanggungan keluarga lebih dari lima orang.

Data BPS menunjukkan angka kemiskinan Kota Tasikmalaya pada 2025 mencapai 10,84 persen atau sekitar 75 ribu jiwa, jauh di atas rata-rata Jawa Barat yang berada di angka 7,02 persen.

Kondisi itu menjadikan Kota Tasikmalaya masih berada di kelompok daerah dengan tingkat kemiskinan tertinggi di Jawa Barat.

Baca Juga:OJK Turun Tangan Soal Mandeknya Pengembalian Dana Talang Nasabah Bank Plat Merah Tasikmalaya Rp6,85 MTarget Kemiskinan Kota Tasikmalaya Turun Satu Digit Tahun ini, TPP Pejabat Jadi Taruhannya Jika Tak Tercapai

Namun yang lebih mengkhawatirkan, kata Agung, bukan hanya besarnya angka kemiskinan, melainkan tingginya indeks kedalaman dan indeks keparahan kemiskinan.

Indeks kedalaman kemiskinan menunjukkan rata-rata jarak pengeluaran penduduk miskin terhadap garis kemiskinan.

Semakin jauh jaraknya, semakin berat intervensi pemerintah untuk mengangkat masyarakat keluar dari kemiskinan.

“Penduduk miskin kita banyak yang berada cukup jauh di bawah garis kemiskinan. Jadi untuk mengangkatnya ke atas garis kemiskinan membutuhkan usaha yang jauh lebih besar,” terangnya.

0 Komentar