“BPBD Ciamis mengajak berhemat penggunaan air dan untuk membuat sumur, lalu disimpan pada kolam terpal penampungan air agar waktu masyarakat membutuhkan air bersih dapat memanfaatkannya dengan efektif dan efisien,” ujarnya.
Tidak hanya berdampak pada kebutuhan air bersih, musim kemarau juga mulai mengancam sektor pertanian. Sawah tadah hujan di Blok Awi Riung, Kampung Cilame, Kelurahan Ciamis, terlihat mengering dan tanahnya mulai retak sehingga berpotensi menyebabkan gagal panen.
Warga Kampung Cilame, Ending (76), mengatakan sawah di wilayah tersebut hanya mengandalkan air hujan sehingga produktivitasnya sangat bergantung pada kondisi cuaca.
Baca Juga:Perkuat Mitigasi Risiko Proyek, PT Askrindo dan Dinas PUTRLH Kabupaten Tasikmalaya Jalin Kerja SamaPangdam III/Siliwangi Beri Pengarahan kepada 2.211 Personel Satuan TP Tahap IV
“Sawah di sini tadah hujan, kalau musim kemarau seperti ini pasti sudah dipastikan gagal panen, karena tidak ada air untuk ke sawah,” katanya.
Ia mengaku sempat menggarap sawah pada Mei 2026. Namun, hujan yang tidak lagi turun membuat lahan mengering dan tanaman dipastikan gagal panen.
“Padahal modal garap Rp 1,5 juta buat bayar buruh dan lainnya. Sehingga modalnya tidak bakal ke ganti karena gagal panennya,” ujarnya.
“Jadi sekarang lebih baik beli berasnya daripada menanam padi,” tambahnya.
Meski demikian, kebutuhan air bersih untuk keluarganya hingga saat ini masih terpenuhi melalui sumur bor sedalam 12 meter.
“Kalau untuk air bersih untuk keluarga sekarang masih ada, akan tetapi bulan berikutnya tidak tahu,” pungkasnya. (riz)
