TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Saya kembali membaca catatan anak muda 20 tahun itu. Muhamad Jausan Kamil.
Semakin dibaca, semakin terasa bahwa ia tidak sedang menulis program kerja. Ia sedang menulis kegelisahan.
Kegelisahan yang lahir dari pertanyaan sederhana: Mengapa Kota Tasikmalaya yang memiliki begitu banyak potensi belum mampu berlari sekencang yang seharusnya?
Baca Juga:Kadis yang Tidak Suka Basa- Basi!MAN 1 Tasikmalaya Jadi Tuan Rumah Pusdiklatsar Paskibra Tingkat Kabupaten Tahun 2026
Lalu saya sampai pada kalimat yang menjadi inti seluruh tulisannya: “Tasikmalaya tidak kekurangan potensi. Tasikmalaya kekurangan orkestrasi.”
Kalimat itu sederhaha. Tetapi justru karena sederhana, ia berbahaya. Karena sering kali kita terlalu sibuk mencari pemain baru.
Padahal masalahnya bukan kekurangan pemain. Masalahnya adalah tidak ada yang mengatur irama.
Selama ini pembangunan sering dipahami sebagai urusan proyek.Semakin banyak bangunan berdiri, semakin dianggap berhasil.
Semakin banyak plang proyek terpasang, semakin dianggap maju. Jalan dicor. Trotoar diperbaiki. Gedung dibangun. Lampu dipasang. Lalu foto-foto diunggah ke media sosial. Pembangunan dianggap selesai.
Padahal masyarakat sering memiliki ukuran yang jauh lebih sederhana. Mereka tidak bertanya berapa miliar anggaran yang terserap. Mereka bertanya: “Hidup saya lebih baik tidak?”
Anak muda tidak bertanya berapa banyak rapat yang digelar. Mereka bertanya:
Baca Juga:Enam Bulan yang Berkesan!Solidaritas untuk Supriadi, Perempuan Pejuang Agraria Titipkan Sepasang Kambing di Polres Tasikmalaya
“Saya dapat pekerjaan tidak?” Petani tidak bertanya berapa banyak program yang diluncurkan.
Mereka bertanya: “Hasil panen saya untung tidak?” Itulah ukuran yang sesungguhnya. Ukuran yang sering terlupakan.
Dalam catatannya, Jausan menulis sesuatu yang menarik. Jika suatu hari ia dipercaya memimpin kota ini, ia tidak akan memulai dari proyek besar.
Ia akan memulai dari pertanyaan sederhana. Apa yang sebenarnya dibutuhkan masyarakat? Saya tersenyum membaca bagian itu.
Karena pertanyaan sederhana sering kali lebih sulit dijawab daripada pertanyaan rumit. Pemerintah kadang memiliki data.
Tetapi tidak selalu memiliki cerita. Padahal cerita itulah yang hidup di RT dan RW.
Mereka tahu siapa yang baru kehilangan pekerjaan. Mereka tahu siapa yang punya usaha kecil tetapi kesulitan modal. Mereka tahu siapa yang sebenarnya berbakat tetapi tidak punya kesempatan.
