Andai Aku Jadi Wali Kota Tasikmalaya (Part 2)

Muhamad Jausan Kamil Tasikmalaya
gambar ilustrasi: AI
0 Komentar

Hal yang sama ia lihat dalam sektor kesehatan. Selama ini keberhasilan sering diukur dari jumlah gedung. Jumlah puskesmas. Jumlah fasilitas. Padahal ukuran paling sederhana adalah:

Apakah masyarakatnya sehat? Karena masyarakat yang sehat akan bekerja lebih baik. Masyarakat yang produktif akan menghasilkan ekonomi yang lebih kuat.

Dan ekonomi yang kuat akan menciptakan kemampuan membiayai pembangunan secara mandiri. Semuanya saling terhubung. Tidak berdiri sendiri. Persis seperti sebuah orkestra.

Baca Juga:Kadis yang Tidak Suka Basa- Basi!MAN 1 Tasikmalaya Jadi Tuan Rumah Pusdiklatsar Paskibra Tingkat Kabupaten Tahun 2026

Kemudian saya menemukan bagian yang paling menarik. Tentang PAD. Pendapatan Asli Daerah. Biasanya ketika PAD dibahas, yang muncul adalah pajak. Retribusi. Pungutan. Target penerimaan. Tetapi anak muda ini melihat dari arah yang berbeda.

Menurutnya PAD yang kuat bukan lahir dari masyarakat yang diperas. Melainkan dari masyarakat yang sejahtera. Karena ketika usaha berkembang, perdagangan tumbuh.

Ketika perdagangan tumbuh, investasi datang. Ketika investasi datang, lapangan kerja tercipta. Dan dari situlah PAD meningkat secara alami. Tanpa harus membuat rakyat sesak napas.

Lalu sampailah saya pada bagian terakhir. Bagian yang mungkin paling berani. Tentang penghematan. Tentang fasilitas. Tentang cara pandang terhadap kekuasaan.

Jausan menulis sebuah pertanyaan yang sederhana tetapi tajam. Mengapa ketika anggaran terbatas, yang pertama kali diminta berhemat sering kali masyarakat?

Mengapa bukan pemerintah yang lebih dulu menunjukkan contoh? Pertanyaan itu tidak menyerang siapa pun. Tetapi cukup untuk membuat siapa pun berpikir. Karena memang ada kalanya rakyat diminta mengencangkan ikat pinggang.

Sementara sebagian pemegang kekuasaan masih nyaman dengan sabuk yang longgar. Padahal rumah dinas hanyalah alat kerja.

Baca Juga:Enam Bulan yang Berkesan!Solidaritas untuk Supriadi, Perempuan Pejuang Agraria Titipkan Sepasang Kambing di Polres Tasikmalaya

Mobil dinas hanyalah alat kerja. Jabatan pun sesungguhnya hanyalah alat kerja. Bukan mahkota. Bukan simbol kemuliaan. Bukan pula alasan untuk hidup lebih mewah daripada rakyat yang dilayani.

Dan mungkin di situlah inti dari seluruh catatan anak muda ini. Tasikmalaya tidak sedang mencari lebih banyak gedung. Tidak sedang mencari lebih banyak slogan.

Tidak sedang mencari lebih banyak seremoni. Tasikmalaya sedang mencari dirigen.

Seseorang yang mampu membuat seluruh potensi memainkan nada yang sama. Karena pemainnya sudah ada. Panggungnya sudah ada. Penontonnya juga sudah siap. Yang belum terdengar hanyalah musiknya. (red)

0 Komentar