Mereka tahu keluarga mana yang sedang berjuang diam-diam. RT dan RW adalah mesin pencatat kehidupan yang tidak pernah masuk statistik resmi.
Mereka melihat apa yang tidak dilihat laporan. Mendengar apa yang tidak terdengar dalam rapat. Dan memahami apa yang tidak tertulis dalam dokumen.
Mungkin karena itulah Jausan ingin pembangunan dimulai dari sana. Dari data yang bernapas. Bukan data yang hanya tersimpan dalam lemari.
Baca Juga:Kadis yang Tidak Suka Basa- Basi!MAN 1 Tasikmalaya Jadi Tuan Rumah Pusdiklatsar Paskibra Tingkat Kabupaten Tahun 2026
Bagian lain dari catatan itu membuat saya teringat pada paradoks yang sudah lama terjadi. Kota Tasikmalaya berbicara tentang ketahanan pangan.
Tetapi petaninya masih kesulitan mendapatkan keuntungan yang layak. Kota Tasikmalaya berbicara tentang pertumbuhan ekonomi.
Tetapi nilai tambah ekonominya sering dinikmati daerah lain. Petani menjual gabah. Yang untung besar adalah penjual beras. Peternak menjual ternak.
Yang menikmati keuntungan besar adalah industri pengolahannya. Nelayan atau pembudidaya menjual hasil panen. Yang memperoleh margin terbesar justru rantai berikutnya.
Kota Tasikmalaya menghasilkan. Daerah lain mengolah. Tasikmalaya bekerja. Daerah lain menikmati nilai tambahnya.
Itulah kebocoran ekonomi yang sering tidak terlihat. Bukan karena hasil produksinya hilang. Tetapi karena keuntungan terbesarnya pergi.
Jausan menyebutnya dengan istilah yang menarik. Perpindahan dari ekonomi produksi menuju ekonomi nilai tambah. Artinya sederhana. Jangan hanya menjual bahan mentah. Jual hasil olahannya. Jangan hanya menghasilkan.
Baca Juga:Enam Bulan yang Berkesan!Solidaritas untuk Supriadi, Perempuan Pejuang Agraria Titipkan Sepasang Kambing di Polres Tasikmalaya
Tetapi juga mengolah. Karena di situlah pekerjaan tercipta. Di situlah pendapatan meningkat. Di situlah kesejahteraan bertumbuh. Kalau beras diolah di Tasikmalaya, ada pekerjaan baru.
Kalau hasil peternakan diolah di Tasikmalaya, ada industri baru. Kalau hasil perikanan diproses di Tasikmalaya, ada rantai ekonomi baru. Uang tidak pergi jauh. Ia berputar lebih lama di rumahnya sendiri.
Lalu catatan itu masuk ke wilayah pendidikan. Di sini saya berhenti agak lama. Karena persoalannya memang tidak sederhana.
Sekolah hari ini sering berhasil meluluskan siswa. Tetapi belum tentu berhasil menyiapkan masa depannya. Ijazah bertambah.
Lapangan pekerjaan tidak selalu ikut bertambah. Akibatnya lahirlah paradoks baru. Lulusan banyak. Kesempatan terbatas.
Jausan melihat pendidikan tidak boleh berhenti pada kelulusan. Pendidikan harus melahirkan keberanian. Keberanian menciptakan usaha. Keberanian berinovasi. Keberanian membuka lapangan kerja. Bukan hanya keberanian mencari pekerjaan.
