TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Usia 38 tahun. Bagi sebagian orang, usia itu masih dianggap terlalu muda untuk memimpin sebuah kota.
Tetapi bagi Viman Alfarizi, usia 38 tahun justru menjadi momentum. Ia berhasil menembus batas yang selama ini dianggap hanya bisa dicapai mereka yang berambut mulai memutih. Ia menjadi Wali Kota Tasikmalaya periode 2024-2029.
Tentu saja perjalanan politik Viman tidak lahir dalam semalam. Ada proses panjang, ada pembelajaran, ada kepercayaan publik yang tumbuh. Namun satu hal yang pasti: keberhasilannya memberi pesan kuat kepada generasi muda bahwa kepemimpinan bukan semata soal usia.
Baca Juga:Dugaan Penyekapan Pegawai Koperasi di Kota Tasikmalaya Diusut, Korban Masih 16 TahunUMB Hadirkan Praktisi ke Ruang Kelas, Dirangkaikan dengan Milad Ke-3
Yang lebih penting adalah kesiapan. Karena itu, setelah Viman duduk di kursi wali kota, muncul fenomena menarik di kalangan anak muda Kota Tasikmalaya.
Mereka mulai berandai-andai. Bukan sekadar berandai menjadi wali kota. Tetapi mulai bertanya kepada diri sendiri: jika suatu saat dipercaya memimpin kota ini, apa yang akan mereka lakukan? Program apa yang akan dibuat? Masalah apa yang harus diselesaikan? Dan seperti apa Tasikmalaya yang mereka impikan?
Pertanyaan-pertanyaan itu terdengar sederhana. Namun sesungguhnya itulah awal dari lahirnya pemimpin masa depan.
Salah satu anak muda yang sedang melakukan “latihan kepemimpinan dalam pikirannya” adalah Muhamad Jausan Kamil.
Usianya baru 20 tahun. Jauh dari usia rata-rata seorang kepala daerah. Namun justru di usia itulah ia mulai menyusun peta pikir tentang Tasikmalaya.
Ia tidak sedang berkampanye. Tidak sedang mencalonkan diri. Ia hanya sedang menulis. Tetapi kadang-kadang perubahan besar memang dimulai dari sebuah tulisan.
Tulisan Jausan memiliki judul yang menarik: “Tasikmalaya Tidak Kekurangan Potensi, Tasikmalaya Kekurangan Orkestrasi.”
Baca Juga:Marak Booking Hotel Palsu, Puluhan Kasus Terjadi di TasikmalayaCash Flow Pemkot Tasikmalaya Terus Diatur Ketat, Program Disisir Ulang
Kalimat itu sederhana. Tetapi menohok. Saya membacanya beberapa kali. Lalu teringat sebuah pertunjukan musik orkestra.
Di sana ada pemain biola yang hebat. Ada pemain piano yang luar biasa. Ada pemain cello yang berbakat. Tetapi jika masing-masing bermain sesuka hati, yang lahir bukan musik indah. Yang lahir justru kebisingan.
Mungkin itulah yang sedang ingin disampaikan Jausan. Menurutnya, persoalan utama Kota Tasikmalaya bukan karena tidak memiliki potensi.
