Justru potensi itu berlimpah. Petani ada.
Pedagang ada. Pesantren ada. UMKM tumbuh di mana-mana. Anak muda kreatif juga tidak sedikit.
Namun semuanya sering berjalan sendiri-sendiri. Tidak berada dalam satu irama pembangunan yang sama.
Dalam catatannya, Jausan bercerita tentang petani yang mengeluhkan harga hasil panen. Tentang sarjana muda yang kesulitan mencari pekerjaan.
Baca Juga:Dugaan Penyekapan Pegawai Koperasi di Kota Tasikmalaya Diusut, Korban Masih 16 TahunUMB Hadirkan Praktisi ke Ruang Kelas, Dirangkaikan dengan Milad Ke-3
Tentang pelaku UMKM yang bertahun-tahun bertahan tetapi sulit naik kelas karena akses pasar dan permodalan yang terbatas.
Semakin sering ia turun ke masyarakat, semakin ia menemukan satu kesimpulan. Masalah Tasikmalaya bukan semata angka kemiskinan.
Bukan pula sekadar pengangguran. Bukan hanya soal kecilnya pendapatan daerah.
Masalahnya lebih mendasar. Potensi-potensi besar itu belum dipertemukan dalam satu panggung yang sama.
Belum ada dirigen yang mampu membuat semuanya memainkan nada yang saling menguatkan. Saya tersenyum ketika membaca bagian itu.
Sebab di usia 20 tahun, anak muda ini ternyata tidak sibuk membicarakan dirinya sendiri. Ia justru sibuk memikirkan kotanya. Barangkali inilah yang dibutuhkan Kota Tasikmalaya hari ini.
Bukan sekadar pemimpin muda. Tetapi semakin banyak anak muda yang mulai berpikir seperti pemimpin. Karena kota besar tidak lahir dari satu orang hebat.
Kota besar lahir ketika banyak orang mulai merasa memiliki tanggung jawab terhadap masa depannya.
Baca Juga:Marak Booking Hotel Palsu, Puluhan Kasus Terjadi di TasikmalayaCash Flow Pemkot Tasikmalaya Terus Diatur Ketat, Program Disisir Ulang
Viman Alfarizi mungkin telah membuktikan bahwa anak muda bisa menjadi wali kota. Namun yang lebih penting dari itu adalah efek berantainya.
Ia telah membuat banyak anak muda mulai berani bermimpi. Mulai berani berpikir. Mulai berani bertanya kepada dirinya sendiri: “Kalau suatu saat saya menjadi wali kota, apa yang akan saya lakukan untuk Tasikmalaya?”
Pertanyaan itu mungkin belum menghasilkan kebijakan. Belum menghasilkan pembangunan. Belum menghasilkan anggaran.
Tetapi dari sanalah semuanya bermula. Sebab setiap perubahan besar selalu diawali oleh satu hal yang sederhana.
Ada seseorang yang berani membayangkan masa depan yang lebih baik. Dan hari ini, di sudut Kota Tasikmalaya, seorang anak muda bernama Muhamad Jausan Kamil sedang melakukan itu. (red)
