5 Mahasiswi Poltekkes Kemenkes Tasikmalaya Ciptakan Terobosan Baru Cegah Anemia pada Ibu Hamil dan Remaja

Poltekkes Kemenkes Tasikmalaya
Mahasiswa Poltekkes Kemenkes Tasikmalaya menghadirkan lima inovasi kesehatan berbasis komunitas yang langsung menyasar wilayah kerja Puskesmas Kahuripan, khususnya di Kelurahan Cikalang, Kecamatan Tawang. (Istimewa for Radartasik.id)
0 Komentar

PEKA FE: Pepaya Konsumsi Fe

Inovasi ini menggabungkan konsumsi tablet Fe dengan buah pepaya. Pendekatan ini bertujuan membantu mengurangi efek mual sekaligus meningkatkan penyerapan zat besi.

Remaja putri didorong mengonsumsi sekitar 100 gram pepaya setelah tablet Fe sebagai bagian dari pola konsumsi harian.

LENTERA BUMIL: Layanan Terpadu Deteksi Anemia Ibu Hamil

Program ini fokus pada ibu hamil dengan risiko anemia. LENTERA BUMIL menggabungkan edukasi sederhana, catatan konsumsi tablet tambah darah, serta sistem pengingat harian.

Baca Juga:BPJS Ketenagakerjaan Banjar Tanam Pohon di RS Orthopedi Ciamis, Wujud Kepedulian terhadap LingkunganBPJS Kesehatan Gandeng KDMP Dawagung untuk Perluas Kepesertaan dan Keaktifan JKN di Tasikmalaya

Keluarga, terutama suami, dilibatkan untuk meningkatkan kepatuhan konsumsi suplemen dan menjaga pola makan bergizi selama kehamilan.

SEHATI HIJAU: Sehat Ibu Hamil Tanpa Anemia dengan Kacang Hijau

Inovasi ini memanfaatkan sari kacang hijau sebagai intervensi nutrisi. Minuman ini diberikan sekitar 250 ml disertai edukasi gizi dan pemantauan konsumsi tablet Fe.

Pendekatan ini menekankan penggunaan pangan lokal yang kaya zat besi, protein, dan asam folat untuk membantu meningkatkan kadar hemoglobin secara alami.

Seluruh inovasi ini menunjukkan pendekatan berbasis komunitas yang lebih terarah.

Fokus tidak hanya pada pemberian suplemen, tetapi juga perubahan perilaku, edukasi keluarga, dan pemanfaatan pangan lokal.

Model ini juga memperkuat peran mahasiswa kebidanan sebagai agen perubahan di layanan kesehatan primer.

Kolaborasi dengan Puskesmas Kahuripan memperlihatkan bahwa intervensi kesehatan dapat berjalan efektif ketika akademisi dan layanan kesehatan bergerak bersama.

Di sisi lain, tantangan tetap ada pada konsistensi perilaku konsumsi tablet Fe dan keberlanjutan program setelah masa praktik mahasiswa berakhir. Karena itu, dukungan kader dan tenaga kesehatan menjadi faktor penentu. (rls)

0 Komentar