“Kami berharap pembayaran pajak tidak lagi dipandang sebagai kewajiban yang memberatkan, tetapi menjadi kebiasaan dan bentuk tanggung jawab warga negara dalam mendukung pembangunan daerah,” tambahnya.
Selain memperkenalkan inovasi tersebut, tim juga memberikan edukasi mengenai fungsi pajak daerah sebagai salah satu sumber utama pembiayaan pembangunan.
Materi meliputi pemahaman PBB-P2, PKB, manfaat pajak bagi masyarakat, hingga pentingnya kepatuhan wajib pajak.
Baca Juga:Aliansi PPPK Paruh Waktu Minta Pemkot Tasikmalaya Bijak Sebelum Membuka CPNSPAN Kota Tasikmalaya Bidik Delapan Kursi di Pileg 2029, Soliditas Jadi Kunci Utama
Penyampaian materi dilakukan secara interaktif oleh Andri Arif, Dwiyan Al Rasyid, dan Wildan Dwi Dermawan melalui diskusi serta sesi tanya jawab sehingga peserta lebih mudah memahami materi.
Perwakilan Tim Penggerak PKK Desa Selasari mengapresiasi program tersebut. Menurutnya, metode edukasi yang sederhana membuat materi mudah dipahami dan bisa langsung diterapkan oleh masyarakat.
“Program ini sangat bermanfaat karena memberikan pemahaman yang sederhana dan mudah dipraktikkan. Kehadiran Pentungan Pajak menjadi pengingat sekaligus sarana bagi keluarga untuk mulai menabung secara rutin demi memenuhi kewajiban pajak tepat waktu. Kami berharap gerakan ini dapat menjadi budaya baru di Desa Selasari,” katanya.
Melalui kegiatan pengabdian masyarakat ini, Universitas Siliwangi berharap literasi perpajakan masyarakat semakin meningkat, kepatuhan wajib pajak tumbuh lebih baik, dan budaya menabung untuk membayar pajak dapat menjadi kebiasaan baru.
Jika kesadaran itu terus bertumbuh, penerimaan pajak daerah pun diharapkan ikut meningkat sebagai modal penting bagi pembangunan daerah. (ujang nandar)
