“Realitas di Milan sangat berbeda dan lahir dari keadaan darurat yang terjadi pada 25 Mei 2026. Dengan sebuah pernyataan singkat, RedBird menyingkirkan pelatih, direktur olahraga, direktur teknik, dan CEO secara bersamaan,” kata Raimondo.
Menurutnya, kondisi tersebut membuat Milan terpaksa membangun struktur baru dalam waktu yang sangat singkat.
Karena itu, Raimondo menilai model baru Milan bukanlah hasil perencanaan jangka panjang seperti yang terjadi di Liverpool.
Baca Juga:Tak Cocok dengan Gaji di Udinese, Zaniolo Bisa Pindah ke Juventus atau AC MilanSulit Datangkan Oumar Solet, Inter Milan Bidik Bek Andalan AS Roma
Sebaliknya, struktur tersebut lahir dalam satu musim panas yang penuh tekanan.
Ia bahkan menyebut beberapa perubahan dilakukan karena klub gagal mendapatkan target-target yang diinginkan dari luar organisasi.
Selain itu, sejumlah negosiasi kontrak dengan kandidat pilihan juga tidak berhasil diselesaikan.
Akibatnya, Milan memilih mengangkat beberapa analis internal ke posisi operasional yang sangat penting dalam pengambilan keputusan olahraga.
Pernyataan Raimondo ini sejalan dengan kritik yang sebelumnya muncul dari beberapa jurnalis Italia.
Mereka mempertanyakan klaim bahwa Milan sedang mengadopsi model Liverpool secara utuh.
Perbandingan itu semakin menarik karena Liverpool dan Milan saat ini sama-sama berada di bawah kepemilikan investor Amerika Serikat.
Baca Juga:Mourinho: Barcelona Klub Terbesar di Dunia, Tepat di Belakang Real MadridPiala Dunia 2026: Messi Top Skor, Qatar Angkat Koper
Namun menurut Raimondo, kesamaan asal pemilik tidak berarti kedua klub menjalankan proses yang identik.
Liverpool membangun fondasi mereka sedikit demi sedikit hingga menjadi salah satu klub paling stabil di Eropa.
Sementara Milan justru sedang mencoba menyusun ulang organisasi setelah mengalami guncangan besar di level manajemen.
Karena itu, Raimondo menganggap terlalu dini menyebut Milan sedang mengikuti jejak Liverpool. Menurutnya, Rossoneri baru memulai perjalanan yang sangat panjang dan penuh risiko.
Kini tantangan terbesar bagi Gerry Cardinale adalah membuktikan bahwa struktur baru yang dibentuk secara cepat tersebut mampu menghasilkan prestasi di lapangan.
Jika berhasil, Milan mungkin akan dianggap menemukan jalannya sendiri. Namun jika gagal, kritik bahwa perubahan ini hanyalah keputusan dadakan akan semakin sulit dibantah.
