Kondisi ini membuat Juventus bergerak lebih cepat dalam berbagai negosiasi, terutama di bursa transfer.
Perbedaan antara kedua klub bukan sekadar persoalan angka, karena ini adalah cerminan tingkat kepercayaan yang diberikan pemilik kepada para eksekutif mereka.
Di Juventus, keluarga Agnelli melalui Exor tampaknya memilih memberikan otonomi yang sangat besar kepada Carnevali untuk membangun proyek olahraga baru.
Baca Juga:Tak Perlu Lapor Pemilik, Tanda Tangan CEO Baru Juventus Bisa Beli Pemain Seharga Rp1 Triliun Real Madrid Beli 4 Pemain Bintang, Mourinho Minta Datangkan Enzo Fernandez
Mereka mempercayakan banyak keputusan strategis kepada CEO tanpa perlu campur tangan langsung dalam setiap transaksi.
Sebaliknya, di Milan, Gerry Cardinale memilih pendekatan yang lebih terpusat.
Bahkan untuk operasi transfer yang nilainya relatif kecil di level sepak bola modern Eropa, persetujuan pemilik masih menjadi syarat utama.
Sebagai gambaran, saat ini pemain muda berbakat di Eropa saja banyak yang memiliki nilai pasar di atas 20 juta euro atau sekitar Rp400 miliar.
Artinya, hampir semua transfer penting Milan harus melewati meja Cardinale terlebih dahulu.
Masing-masing model tentu memiliki kelebihan dan kekurangan.
Model Juventus menawarkan kecepatan dalam pengambilan keputusan. Klub tidak perlu menunggu persetujuan pemilik untuk setiap langkah besar sehingga negosiasi bisa berlangsung lebih efektif.
Namun, risiko kesalahan juga lebih besar karena banyak keputusan bergantung pada satu figur eksekutif.
Sebaliknya, model Milan memberikan kontrol yang lebih ketat terhadap keuangan klub.
Baca Juga:Jurnalis Italia Minta Cardinale Mundur: Sejarah Milan Tak Bisa Diperlakukan Seperti IniPresiden AC Milan Minta Fans Dukung Ruben Amorim: Percayalah pada Sentuhan Ajaib Cardinale
Risiko pengeluaran yang tidak terukur dapat diminimalkan karena setiap investasi besar harus melalui proses persetujuan tambahan.
Di sisi lain, sistem ini berpotensi memperlambat proses negosiasi, terutama dalam bursa transfer yang sering menuntut keputusan cepat.
Siapa yang Akan Lebih Berhasil?
Musim 2026/2027 akan menjadi ujian menarik bagi kedua pendekatan tersebut.
Milan baru saja menunjuk Ruben Amorim sebagai pelatih baru dan sedang membangun ulang struktur klub dari atas hingga bawah.
Juventus juga menjalani fase transformasi dengan memberikan kewenangan besar kepada Carnevali untuk memimpin proyek olahraga mereka.
Pada akhirnya, yang akan dinilai bukanlah besarnya kekuasaan seorang CEO, melainkan hasil yang mampu diberikan kepada klub.
Namun satu hal sudah pasti: jika Carnevali ingin membeli pemain senilai Rp1 triliun, ia bisa langsung menandatangani dokumennya.
