Biopori dan KWT Jadi Senjata Mahasiswa Unsil Berdayakan Warga Tasikmalaya

mahasiswa Unsil pemberdayaan masyarakat
Mahasiswa Program Studi Pendidikan Masyarakat FKIP Unsil melaksanakan pengabdian melalui Program Pengamalan Ilmu Pendidikan Masyarakat (Pipemas) di Mugarsari, Jumat (19/6/2026). ujang nandar / radartasik.id
0 Komentar

TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Persoalan lingkungan tak cukup diselesaikan lewat seminar atau ruang kelas.

Mahasiswa Program Studi Pendidikan Masyarakat Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Siliwangi (Unsil) memilih turun langsung ke tengah masyarakat melalui Program Pengamalan Ilmu Pendidikan Masyarakat (Pipemas), Jumat (19/6/2026).

Selama tiga hari, mahasiswa melaksanakan pengabdian di Kelurahan Mugarsari, Kecamatan Tamansari, Kota Tasikmalaya.

Baca Juga:Perajin Tahu Terjepit, Pemkot Tasik Siapkan Langkah SolusiPekarangan Produktif Jadi Senjata Ketahanan Pangan di Kota Tasikmalaya

Program tersebut menjadi ruang implementasi ilmu sekaligus upaya memperkuat pemberdayaan masyarakat melalui sosialisasi dan pembuatan biopori serta revitalisasi Kelompok Wanita Tani (KWT).

Ketua Pelaksana Pipemas, Dimas Dwi Prasetyo, mengatakan kegiatan tersebut merupakan agenda tahunan Himpunan Mahasiswa (HIMA) Pendidikan Masyarakat Universitas Siliwangi yang dirancang agar mahasiswa tidak hanya memahami teori, tetapi juga mampu menghadirkan solusi di tengah masyarakat.

“Fokus kegiatan tahun ini adalah sosialisasi dan pembuatan biopori serta revitalisasi Kelompok Wanita Tani sebagai bagian dari pemberdayaan masyarakat,” ujarnya.

Menurut Dimas, kehadiran mahasiswa diharapkan mampu memberikan manfaat nyata bagi warga, khususnya dalam menjawab persoalan lingkungan yang semakin kompleks.

Sebab, ilmu akan kehilangan makna apabila hanya berhenti menjadi catatan di ruang kuliah.

Sekretaris Jurusan Pendidikan Masyarakat FKIP Universitas Siliwangi, Ahmad Hamdan, M.Pd., mengapresiasi masyarakat Kelurahan Mugarsari yang telah membuka ruang bagi mahasiswa untuk belajar sekaligus mengabdi.

Ia menegaskan bahwa pendidikan tinggi memiliki tanggung jawab melahirkan lulusan yang mampu memberikan kontribusi langsung kepada masyarakat.

Baca Juga:Retribusi Kota Tasikmalaya Terseok, Sektor Kesehatan Justru Klaim Tetap StabilDenny Frust, Dhyo Haw, hingga Pertelon Koplo: Ini Agenda Lengkap Anniversary STC ke-28!

“Ilmu yang diperoleh mahasiswa tidak boleh berhenti pada tataran teori. Harus ada implementasi nyata agar kehadiran mahasiswa benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat,” katanya.

Menurut Ahmad, Pendidikan Masyarakat merupakan disiplin ilmu yang berorientasi pada pemberdayaan masyarakat.

Karena itu, mahasiswa dituntut mampu membaca persoalan sosial sekaligus menawarkan solusi yang aplikatif.

Ia menilai isu lingkungan menjadi salah satu tantangan yang perlu mendapat perhatian serius.

Program biopori dan revitalisasi KWT diharapkan tidak hanya menjadi kegiatan seremonial, melainkan mampu menumbuhkan kebiasaan baru yang berkelanjutan di tengah masyarakat.

“Mahasiswa Pendidikan Masyarakat memiliki tanggung jawab hadir sebagai agen perubahan. Mudah-mudahan program yang dilaksanakan dapat diteruskan masyarakat sehingga manfaatnya tetap dirasakan meski kegiatan mahasiswa telah selesai,” pungkasnya. (ujang nandar)

0 Komentar