Pengalaman, karakter, dan mentalitas juaranya membantu banyak pemain muda Milan berkembang.
Berbeda jauh dengan Giroud, perjalanan Divock Origi justru mengalami penurunan drastis dalam beberapa tahun terakhir.
Striker asal Belgia itu sebenarnya datang ke Milan dengan reputasi yang cukup mentereng.
Baca Juga:Manchester United Kirim Mata-Mata Pantau Pio Esposito: Inter Milan Tegaskan Sang Striker Tak DijualJuventus Bidik Dua Mantan Pemain AC Milan: Koopmeiners dan Thuram Bisa Jadi Korban
Ia dikenal sebagai pahlawan Liverpool setelah mencetak sejumlah gol penting, termasuk saat membawa klub Merseyside tersebut menjuarai Liga Champions pada 2019.
Ketika bergabung dengan Milan secara bebas transfer, banyak pihak berharap Origi bisa menjadi solusi di lini depan Rossoneri. Namun kenyataannya jauh dari harapan.
Masalah kebugaran, cedera yang berulang, dan performa yang tidak konsisten membuat Origi gagal menunjukkan kualitas terbaiknya.
Ia kesulitan mendapatkan tempat reguler di tim utama dan perlahan kehilangan peran penting dalam skuad.
Situasi tersebut berlanjut hingga akhirnya kontraknya bersama Milan diakhiri pada Januari lalu.
Setelah dua musim yang praktis jauh dari sorotan dan minim menit bermain, Origi mengambil keputusan mengejutkan dengan mengakhiri karier profesionalnya pada usia 31 tahun.
Keputusan itu menandai berakhirnya perjalanan seorang pemain yang pernah berada di puncak sepak bola Eropa.
Baca Juga:Adrien Rabiot Kandidat Pertama yang Ingin Dibawa Allegri ke NapoliMarco Delvecchio: Totti Raja Kedelapan Roma
Meski masih tergolong muda untuk ukuran pesepak bola modern, Origi memilih menutup lembaran kariernya lebih cepat dibanding banyak pemain seusianya.
Kini, jalan hidup kedua mantan penyerang AC Milan tersebut benar-benar berlawanan arah.
Giroud terus menantang batas usia dan masih berambisi merasakan atmosfer Liga Champions.
Sementara itu, Origi memilih meninggalkan lapangan hijau setelah masa-masa sulit yang membuatnya menjauh dari sorotan.
Dua kisah berbeda ini menjadi gambaran bahwa karier sepak bola tidak hanya ditentukan oleh bakat.
Profesionalisme, konsistensi, kondisi fisik, dan motivasi sering kali menjadi faktor yang menentukan seberapa lama seorang pemain mampu bertahan di level tertinggi.
Bagi Olivier Giroud, petualangan itu masih belum berakhir. Sementara bagi Divock Origi, waktunya telah tiba untuk membuka babak baru di luar dunia sepak bola profesional.
