Era Kegelapan AC Milan Bersama Cardinale: Revolusi Tanpa Maldini Hanya Hasilkan Satu Gelar Piala Super Italia

Gerry Cardinale
Gerry Cardinale Foto: Tangkapan layar Instagram
0 Komentar

Nama besar seperti Santiago Giménez didatangkan dari Feyenoord dengan mahar 30,2 juta euro atau sekitar Rp513,4 miliar.

Lalu ada Youssouf Fofana dari Monaco senilai 26 juta euro (Rp442 miliar), Strahinja Pavlović dari Salzburg seharga 18,5 juta euro (Rp314,5 miliar), dan Álvaro Morata dari Atletico Madrid dengan nilai 17,2 juta euro atau sekitar Rp292,4 miliar.

Memasuki musim 2025/2026, Milan kembali menggelontorkan dana fantastis demi kembali bersaing di papan atas Eropa.

Baca Juga:Jelang Laga Final Coppa Italia Lawan Inter, Maurizio Sarri Jadi Incaran Napoli dan AtalantaBiasin: Bukan Uang Indonesia yang Buat Como Lolos ke Kompetisi Eropa, Tapi Ide

Pembelian terbesar jatuh kepada Christopher Nkunku dari Chelsea dengan harga 37 juta euro atau sekitar Rp629 miliar.

Selain itu, Milan juga mendatangkan Ardon Jashari dari Club Brugge dengan biaya 36 juta euro (Rp612 miliar), Samuele Ricci dari Torino senilai 23 juta euro (Rp391 miliar), dan Koni De Winter dari Genoa dengan harga 20 juta euro atau sekitar Rp340 miliar.

Namun besarnya investasi itu tidak berbanding lurus dengan hasil di lapangan.

Cardinale tercatat sudah mengganti pelatih sebanyak tiga kali, mulai dari Pioli, Paulo Fonseca, hingga Sérgio Conceição sebelum akhirnya menunjuk Massimiliano Allegri.

Pergantian di level manajemen juga terus terjadi. Maldini disingkirkan, Ricky Massara dilepas, dan direktur olahraga Antonio D’Ottavio juga keluar dari klub sebelum akhirnya bergabung dengan Como.

Situasi tersebut membuat Milan dianggap kehilangan fondasi kuat sebagai klub besar. Tidak ada kesinambungan proyek, baik dari sisi teknis maupun manajemen.

Perbandingan dengan Inter Milan pun semakin menyakitkan bagi fans Rossoneri.

Di saat Milan sibuk berganti pelatih dan merombak struktur klub, Inter justru mempertahankan stabilitas manajemen yang menjadi dasar kesuksesan mereka.

Baca Juga:Jurnalis Italia: Petinggi AC Milan Singkirkan Boban dan Maldini Karena Haus KeuntunganBonucci Ramal AC Milan Sulit Lolos ke Liga Champions: Juventus dan Como Punya Peluang Lebih

Dengan begitu banyak perubahan dan keputusan kontroversial, Milan kini dianggap sedang memasuki salah satu periode paling membingungkan dalam sejarah modern klub.

Besarnya uang yang dikeluarkan ternyata belum cukup untuk membawa Rossoneri kembali menjadi kekuatan dominan di Italia maupun Eropa.

0 Komentar