Era Kegelapan AC Milan Bersama Cardinale: Revolusi Tanpa Maldini Hanya Hasilkan Satu Gelar Piala Super Italia

Gerry Cardinale
Gerry Cardinale Foto: Tangkapan layar Instagram
0 Komentar

RADARTASIK.ID – Kepemimpinan Gerry Cardinale di AC Milan mulai mendapat sorotan tajam dari publik Italia.

Setelah empat tahun berada di bawah kendali RedBird Capital, Rossoneri dinilai gagal membangun proyek yang stabil meski telah menghabiskan dana transfer dalam jumlah besar.

Fakta paling mencolok terlihat dari prestasi tim.

Sejak RedBird mengambil alih mayoritas saham Milan dari Elliott Management pada 2022, klub hanya mampu meraih satu trofi, yakni Piala Super Italia.

Baca Juga:Jelang Laga Final Coppa Italia Lawan Inter, Maurizio Sarri Jadi Incaran Napoli dan AtalantaBiasin: Bukan Uang Indonesia yang Buat Como Lolos ke Kompetisi Eropa, Tapi Ide

Selebihnya, Milan justru dianggap berjalan tanpa arah jelas, baik di dalam maupun luar lapangan.

Dalam kurun empat musim terakhir, Milan bahkan tertinggal 55 poin dari rival sekota mereka, Inter Milan, di Serie A.

Selisih tersebut menjadi gambaran nyata betapa besar jurang performa kedua klub dalam beberapa tahun terakhir.

Ironisnya, kegagalan itu terjadi di tengah investasi besar-besaran di bursa transfer. Milan mendatangkan total 36 pemain baru sejak Cardinale mengambil alih klub.

Musim pertama era RedBird dimulai pada 2022/2023, tepat setelah Milan meraih Scudetto bersama Stefano Pioli.

Saat itu, pembelian terbesar diarahkan kepada Charles De Ketelaere dari Club Brugge dengan biaya 37,5 juta euro atau sekitar Rp637,5 miliar.

Selain De Ketelaere, Milan juga mendatangkan Malick Thiaw dari Schalke 04 seharga 12,8 juta euro (Rp217,6 miliar), Junior Messias dari Crotone senilai 6,2 juta euro (Rp105,4 miliar), serta Alessandro Florenzi dari Roma dengan biaya 3,15 juta euro atau sekitar Rp53,5 miliar.

Baca Juga:Jurnalis Italia: Petinggi AC Milan Singkirkan Boban dan Maldini Karena Haus KeuntunganBonucci Ramal AC Milan Sulit Lolos ke Liga Champions: Juventus dan Como Punya Peluang Lebih

Musim berikutnya menjadi awal revolusi besar tanpa kehadiran Paolo Maldini dan Frederic Massara yang sebelumnya berperan besar dalam pembangunan skuad.

Pada musim 2023/2024, Milan kembali jor-joran di pasar transfer.

Mereka membeli Tijjani Reijnders dari AZ Alkmaar seharga 24,8 juta euro (Rp421,6 miliar), Yunus Musah dari Valencia senilai 21,2 juta euro (Rp360,4 miliar), serta Samuel Chukwueze dari Villarreal dengan harga 21,1 juta euro atau sekitar Rp358,7 miliar.

Tak berhenti di situ, Rossoneri juga merekrut Christian Pulisic dari Chelsea dengan nilai transfer 20,8 juta euro (Rp353,6 miliar) dan Ruben Loftus-Cheek senilai 18,9 juta euro atau sekitar Rp321,3 miliar.

Setelah era Pioli berakhir, Milan kembali melakukan revolusi pada musim 2024/2025.

0 Komentar