Pada pekan berikutnya, Juventus akan menghadapi ACF Fiorentina dalam laga yang selalu sarat gengsi dan emosi tinggi.
Setelah itu, mereka harus menjalani Derby della Mole melawan Torino FC di kandang lawan pada pekan terakhir Serie A.
Torino dipastikan ingin menggagalkan langkah Juventus menuju Liga Champions sekaligus memberi kebahagiaan kepada suporternya di akhir musim.
Baca Juga:Gianluca Minchiotti: Juventus Punya Jadwal Paling Buruk dalam Perebutan Tiket Liga ChampionsCassano Minta Fabregas Tinggalkan Italia: Serie A Tak Layak Untuknya
Situasi itu membuat dua pertandingan tersisa terasa seperti final bagi Bianconeri.
Sementara Juventus menghadapi lawan berat, pesaing mereka justru memiliki jadwal yang relatif lebih ringan.
Napoli hanya menghadapi Pisa dan Udinese, sedangkan AC Milan bertemu Genoa dan Cagliari.
Di sisi lain, AS Roma masih harus menghadapi derby melawan SS Lazio sebelum melawan Verona.
Adapun Como 1907 menjadi ancaman kejutan setelah tampil luar biasa sepanjang musim.
Walau demikian, Juventus tetap memiliki keuntungan penting karena masih unggul poin atas Milan dan Roma.
Dengan memenangkan dua laga terakhir, mereka tidak perlu bergantung pada hasil tim lain.
Baca Juga:Claudio Ranieri Tertarik Tukangi Timnas Italia: Buka Peluang Duet dengan AllegriSandro Sabatini: Napoli Conte Punya Mimpi Buruk yang Sama dengan AC Milan Allegri
Spalletti sendiri beberapa kali menegaskan bahwa timnya harus tampil lebih ganas dan lebih efektif di depan gawang jika ingin menutup musim dengan aman.
Pelatih Italia itu sadar satu kesalahan kecil saja bisa membuat seluruh musim Juventus berakhir mengecewakan.
Liga Champions bukan hanya soal prestise bagi Juventus. Tiket ke kompetisi elite Eropa itu akan sangat menentukan kekuatan finansial klub, proyek transfer musim panas, hingga masa depan sejumlah pemain dan staf pelatih.
Karena itu, Minchiotti menilai Juventus kini membutuhkan keberanian, mentalitas, dan karakter kuat dalam dua pertandingan terakhir.
Bukan sekadar bermain bagus, tetapi tampil dengan naluri pembunuh seperti “mata harimau” yang disebutnya sebagai simbol tekad Spalletti di pinggir lapangan.
