Dapur MBG dan Iuran yang Berbisik di Kabupaten Tasikmalaya!

Dapur MBG tasikmalaya
Ilustrasi: AI
0 Komentar

Pemilik dapur pun mulai resah. Mereka bingung. Ini kewajiban atau kebiasaan? Aturan atau sekadar budaya proyek? Resmi atau hanya inisiatif orang-orang yang merasa dekat dengan jalur distribusi kekuasaan?

Karena bila program negara sudah mulai dipagari iuran, biasanya yang pertama hilang adalah keikhlasan. Yang kedua: kualitas. Dan yang ketiga: kepercayaan.

Padahal MBG baru dimulai. Jangan sampai dapurnya belum sepenuhnya mengepul, tapi aroma punglinya sudah lebih dulu tercium.

Baca Juga:Rangkap Sopian!Diky Candra Jangan Sekadar Jaga Toko

Komisi IV sendiri menegaskan monitoring itu murni evaluasi. Hasilnya nanti akan menjadi rekomendasi kepada pimpinan dewan dan Satgas MBG Kabupaten Tasikmalaya. Bahkan akan dilaporkan pula ke dewan pengawas BGN.

“Kita akan cek antara kesesuaian aturan atau persyaratan dapur MBG dengan kondisi riil di lapangan,” ujar Asep.

Pernyataan itu penting.Karena publik kini menunggu satu hal sederhana: jangan sampai program memberi makan anak-anak justru menjadi ladang makan baru bagi oknum-oknum yang pandai memanfaatkan momentum.

Sebab dalam setiap proyek besar, selalu ada dua jenis orang. Yang sibuk memasak. Dan yang sibuk menghitung setoran. (red)

0 Komentar