“Sejarah Milan, tradisi, dan ambisi klub diinjak demi kepentingan ekonomi,” bunyi pernyataan ultras tersebut.
Aksi protes terus berlanjut sepanjang pertandingan. Sebelum kick-off, Curva Sud membentangkan spanduk bertuliskan “Furlani Vattene” atau “Furlani Pergi”.
Saat laga dimulai, tribun ultras menyalakan lampu ponsel membentuk tulisan “GF Out”, merujuk pada Giorgio Furlani.
Baca Juga:Sandro Sabatini: AC Milan Sudah TamatPertama dalam Sejarah, Barcelona Raih Gelar Liga Spanyol dengan Mengalahkan Real Madrid
Tidak hanya manajemen yang menjadi sasaran kemarahan. Para pemain Milan juga mendapat siulan keras dari pendukung sendiri akibat performa buruk mereka.
Kapten tim Mike Maignan ikut disindir karena dianggap gagal menunjukkan kepemimpinan di tengah situasi sulit.
Ketika Giacomo Raspadori mencetak gol ketiga Atalanta, sebagian ultras bahkan meninggalkan stadion sebagai bentuk protes.
Menariknya, di tengah kemarahan terhadap manajemen, para suporter justru menyanyikan chant untuk legenda klub Paolo Maldini, yang didepak dari jajaran direksi pada 2023 lalu.
Nyanyian tersebut dianggap sebagai simbol kerinduan tifosi terhadap sosok yang dinilai memahami identitas Milan dan lebih peduli pada prestasi olahraga dibanding urusan bisnis.
Sabatini sendiri menilai krisis Milan sebenarnya sudah bisa diprediksi sejak awal musim.
Ia mengkritik kebijakan transfer klub yang lebih fokus menjaga neraca keuangan ketimbang memperkuat skuad secara serius.
Baca Juga:Mengapa AC Milan yang Lolos ke Liga Champions Jika Punya Poin yang Sama dengan AS Roma dan ComoCurva Sud Tuding Furlani Hancurkan Tim Scudetto AC Milan: Mereka Menginjak-injak Sejarah Milan
“Milan menutup bursa transfer dengan keuntungan sekitar 60 juta euro atau sekitar Rp1,02 triliun dan berharap semuanya selesai hanya dengan Allegri, Modric, dan Rabiot,” tulisnya.
Menurut Sabatini, strategi itu terlalu berisiko mengingat Milan musim sebelumnya hanya finis di posisi kedelapan Serie A.
Ia juga memberikan kritik keras kepada beberapa pemain, terutama Rafael Leao yang dianggap kehilangan pengaruh di lapangan.
“Di atas kertas dia seharusnya menjadi pemain pembeda. Namun sekarang dia justru selalu menjadi pemain yang merugikan tim,” tulis Sabatini.
Meski peluang lolos ke Liga Champions masih terbuka secara matematis, banyak pengamat di Italia mulai meragukan kemampuan Milan untuk bangkit di dua laga terakhir musim ini.
Dengan tekanan dari suporter, performa tim yang terus menurun, dan persaingan ketat dari Roma serta Como, Rossoneri kini benar-benar berada di ujung tanduk.
