Warisan Inzaghi, Senjata Rahasia Chivu Bawa Inter Milan Raih Scudetto ke-21

Cristian Chivu
Cristian Chivu Foto: Tangkapan layar Instagram@inter
0 Komentar

RADARTASIK.ID – Gelar juara Serie A ke-21 yang diraih Inter Milan musim ini mungkin terlihat seperti sesuatu yang “sudah seharusnya”.

Namun jurnalis Italia, Renato Maisani menegaskan perjalanan menuju Scudetto kali ini jauh dari kata mudah.

Dalam kolom editorialnya di Calciomercato, Maisani memaparkan bagaimana Inter sempat diragukan setelah musim penuh kegagalan di liga maupun final Liga Champions.

Baca Juga:10 Laga Kunci Scudetto Inter Milan: Kekalahan 3-1 dari Napoli Jadi Ajang KebangkitanIgli Tare: Presiden Lazio Selalu Tertidur saat Lakukan Negosiasi, Bangun Ketika Bicara Soal Uang

Kekalahan menyakitkan di panggung Eropa, termasuk pengalaman pahit di Munich, meninggalkan luka mendalam bagi para pemain dan suporter Nerazzurri.

Memasuki musim baru, banyak pihak justru lebih menjagokan Napoli sebagai kandidat kuat juara.

Sementara itu, Inter memilih jalan berbeda: bangkit secara perlahan tanpa banyak sorotan. Mereka tetap mempertahankan kerangka tim musim lalu—skuad yang sempat dicap “sudah habis masa kejayaannya”.

Di tengah keraguan tersebut, hadir sosok Cristian Chivu sebagai pelatih baru.

Meski minim pengalaman di level tertinggi dan sempat dipenuhi tanda tanya, Chivu justru mengambil pendekatan sederhana yang terbukti efektif.

Alih-alih melakukan perubahan besar, ia memilih melanjutkan fondasi yang telah dibangun pendahulunya, Simone Inzaghi.

Taktik, struktur permainan, hingga komposisi tim tidak banyak diutak-atik.

Keputusan ini terlihat sederhana, tetapi dalam dunia sepak bola modern yang sarat ego dan eksperimen, justru menjadi langkah cerdas.

Baca Juga:AC Milan Bakal Jadikan Toulouse Laboratorium Pemain Muda: Ikuti Jejak City dan ChelseaSiap Beri Diskon untuk AC Milan, Agen Mateta Muncul di San Siro

Dengan tetap menggunakan sistem yang telah teruji selama era Inzaghi, Inter mampu menemukan kembali identitas mereka.

Pola permainan yang solid, keseimbangan antar lini, serta pemahaman antar pemain menjadi kunci konsistensi sepanjang musim.

“Chivu melakukan hal paling sederhana namun juga paling sulit: tidak mengubah apa pun, mempertahankan apa yang sudah berjalan baik di era Inzaghi,” tulis Maisani.

Peran kapten Lautaro Martinez juga tidak bisa diabaikan. Meski sempat dibayangi masalah kebugaran, striker asal Argentina itu tetap menjadi penentu di momen-momen penting.

Gol-golnya berkontribusi besar dalam mengamankan poin krusial yang membawa Inter tetap berada di puncak klasemen.

Di sisi lain, para pesaing utama justru gagal menjaga konsistensi.

AC Milan masih mencari identitas permainan yang jelas, Napoli terganggu oleh cedera pemain serta keputusan transfer yang kurang tepat, sementara Juventus baru menemukan ritme terbaiknya ketika musim hampir berakhir.

0 Komentar