TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID — Persoalan sampah kembali menegaskan diri sebagai “PR abadi” Pemerintah Kota Tasikmalaya.
Dalam forum pelaku bank sampah se-Kota Tasikmalaya di Pondok Hijau, Jalan Sukamaju, Mulyasari, Kecamatan Tamansari, Rabu (29/4/2026), satu pesan mengemuka: arah kebijakan dinilai belum sepenuhnya menempatkan pengelolaan sampah sebagai prioritas utama.
Wakil Wali Kota Tasikmalaya, Diky Candra, tak menampik kondisi tersebut.
Ia mengakui penanganan sampah di Kota Tasikmalaya masih jauh dari kata tuntas, bahkan cenderung berjalan di tempat jika tanpa skala prioritas yang jelas.
Baca Juga:Uji Coba CFD ASN Kota Tasikmalaya Menuju Rabu Biru Terus Digelorakan, Wali Kota Kasih ContohBNN Kota Tasikmalaya Gandeng Pramuka, Deteksi Dini Narkoba Diperkuat
“Penanganan sampah kita masih belum beres. Ini yang paling utama. Banyak persoalan, tapi kita harus berani menentukan prioritas,” ujarnya.
Menurutnya, tanpa keberanian memilah prioritas, program pembangunan berpotensi kehilangan arah—ibarat berlari tanpa kompas, ramai di awal tapi bingung di tujuan.
Ia menegaskan, isu kemiskinan dan persampahan semestinya berada di barisan depan kebijakan daerah.
Di tengah keterbatasan sistem, peran bank sampah justru menjadi penopang yang tak bisa dipandang sebelah mata.
Saat ini, kontribusinya disebut telah mencapai sekitar 17 persen dalam pengelolaan sampah di Kota Tasikmalaya—angka yang belum dominan, namun cukup memberi sinyal bahwa potensi dari “gerakan akar rumput” ini tidak kecil.
Ironisnya, hingga kini pemerintah belum memiliki bank sampah umum yang dikelola secara terpusat.
Padahal, fasilitas tersebut dinilai penting untuk memperkuat ekosistem pengelolaan sampah yang sudah tumbuh di masyarakat.
Baca Juga:Keluhan Layanan RS Swasta Mencuat, DPRD Kota Tasikmalaya Soroti Dugaan Calo dan Respons LambatAncaman Penutupan Prodi Kependidikan, kata Ketua PGM: Kebijakan yang Tergesa
“Kita harusnya punya bank sampah umum. Hari ini belum ada. Ini harus jadi perhatian serius ke depan,” kata Diky.
Rencana pembangunan sebenarnya bukan nol besar. Detail Engineering Design (DED) untuk bank sampah umum di wilayah Tamansari telah tersedia.
Estimasi anggaran pun sudah dihitung, lebih dari Rp1 miliar. Nominal yang terlihat besar di atas kertas, namun bisa terasa “ringan” jika manfaat jangka panjangnya benar-benar dirasakan publik.
Diky juga membuka peluang pembiayaan melalui dukungan pemerintah pusat maupun provinsi, jika kemampuan APBD belum mencukupi.
Ia menegaskan, pembangunan ini bukan proyek simbolik, melainkan kebutuhan nyata masyarakat.
