UPI Perkuat Literasi Emosional Lewat Workshop Biblioterapi di Ciamis

literasi emosional
Suasana Workshop Biblioterapi Level 1 yang digelar Kepakaran Bidang Ilmu Biblioterapi Program Studi Perpustakaan dan Sains Informasi, Fakultas Ilmu Pendidikan UPI Bandung. (IST)
0 Komentar

CIAMIS, RADARTASIK.ID – Kepakaran Bidang Ilmu Biblioterapi Program Studi Perpustakaan dan Sains Informasi, Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung menggelar Workshop Biblioterapi Level 1 di Komunitas Gada Membaca Ciamis, Sabtu (25/4/2026).

Kegiatan ini diikuti relawan komunitas serta pegiat literasi dari Forum Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Provinsi Jawa Barat.

Workshop ini menjadi upaya memperkenalkan biblioterapi sebagai pendekatan literasi yang tidak hanya berorientasi pada peningkatan minat baca, tetapi juga sebagai sarana pengembangan diri dan penanganan persoalan emosional.

Baca Juga:Ratusan Kepala Madrasah Ikuti Pembinaan di MAN 1 TasikmalayaTanggung Jawab Moral di Balik Lahirnya Seorang Pemimpin!

Peserta dibekali pemahaman dasar, mulai dari konsep hingga praktik penerapan biblioterapi yang disesuaikan dengan kebutuhan pembaca.

Dosen Prodi Perpustakaan dan Sains Informasi UPI sekaligus pakar biblioterapi, Hj Susanti Agustina PhD, menjelaskan bahwa biblioterapi memanfaatkan bahan bacaan, baik fiksi maupun nonfiksi, untuk membantu individu memahami dan menghadapi persoalan yang dialami.

“Manfaat biblioterapi secara psikologis adalah mengurangi kecemasan, secara emosional membantu regulasi emosi. Adapun secara sosial adalah meningkatkan empati,” jelasnya.

Selain itu, ia menambahkan bahwa biblioterapi juga memiliki manfaat edukatif dan spiritual karena mampu mendorong refleksi diri serta membantu individu menemukan makna hidup.

Dalam pemaparannya, ia menguraikan bahwa proses biblioterapi meliputi beberapa tahapan, yakni identifikasi masalah, katarsis atau pelepasan emosi, serta insight atau pemahaman baru.

Pendekatan ini, kata dia, perlu disesuaikan dengan kelompok usia, mulai dari anak-anak yang membutuhkan rasa aman dan ruang ekspresi emosi, remaja dengan kebutuhan pencarian jati diri, hingga dewasa dan lansia yang lebih berfokus pada manajemen stres serta pencarian makna hidup.

Ia menegaskan bahwa biblioterapi merupakan metode yang efektif untuk pengembangan diri dan penyembuhan melalui bacaan, selama disesuaikan dengan usia, kebutuhan, dan konteks individu.

Baca Juga:Muscab PPP Kota Tasikmalaya yang Mengubah Tradisi, dari Aklamasi ke Argumentasi!Sekjen SPP Agustiana Tanggapi Dugaan Penganiayaan Tokoh Agama Desa Cayur Cikatomas, Begini Katanya

Tak hanya teori, peserta juga mengikuti sesi praktik untuk mengaplikasikan metode tersebut. Mereka dilatih memilih buku yang relevan dengan kondisi pembaca, serta mempraktikkan tahapan membaca yang mencakup pre-reading, during-reading, dan post-reading.

Pada tahap akhir, peserta diminta menyusun simulasi program biblioterapi dengan menentukan setting pelaksanaan, seperti di sekolah, rumah sakit, atau perpustakaan.

0 Komentar