Oleh: Andi Gumilar
Di sebuah kota seperti Tasikmalaya, lahirnya seorang pemimpin tidak pernah benar-benar sendirian.
Ia bukan hanya hasil dari satu keputusan di bilik suara. Ia adalah akumulasi dari pengaruh, dorongan, bisikan, dan kepercayaan dari banyak pihak. Selalu ada nama-nama besar di belakangnya. Selalu ada kekuatan yang “mengantarkan”.
Sering kali justru mereka yang berada di balik layar itulah yang lebih dulu membentuk arah. Mereka yang memperkenalkan, meyakinkan, bahkan menjamin kepada publik bahwa sosok ini layak dipercaya.
Namun satu pertanyaan kerap terlewatkan:
Baca Juga:Muscab PPP Kota Tasikmalaya yang Mengubah Tradisi, dari Aklamasi ke Argumentasi!Sekjen SPP Agustiana Tanggapi Dugaan Penganiayaan Tokoh Agama Desa Cayur Cikatomas, Begini Katanya
ketika kepemimpinan itu berjalan dan mulai diuji oleh realitas, apakah tanggung jawab hanya berhenti pada sosok yang duduk di kursi kekuasaan? Atau seharusnya ikut menyentuh mereka yang sejak awal ikut mengantarkan Kekuasaan, sesungguhnya, tidak pernah netral.
Dalam banyak peristiwa, seorang pemimpin lahir bukan hanya karena kapasitas pribadi, tetapi juga karena endorsement—dukungan dari tokoh, kelompok, atau kekuatan yang punya pengaruh di tengah masyarakat.
Dukungan itu bukan sekadar strategi politik. Ia adalah transfer kepercayaan. Ketika seseorang didorong maju, masyarakat tidak hanya melihat siapa orangnya. Mereka juga melihat siapa yang berdiri di belakangnya. Siapa yang menjamin. Siapa yang meyakinkan.
Di situlah, tanpa disadari, tanggung jawab kolektif mulai melekat sejak awal. Waktu berjalan. Harapan mulai diuji. Tak semua kepemimpinan berjalan mulus. Di tengah perjalanan, muncul pertanyaan. Lalu kritik. Kadang juga kekecewaan. Itu hal yang wajar dalam kehidupan publik.
Yang sering tidak wajar adalah ketika harapan mulai goyah, tanggung jawab seolah menyempit hanya pada satu nama: pemimpin yang sedang menjabat. Padahal dulu, saat harapan dibangun, ia tidak berdiri sendirian.
Lalu ke mana arah tanggung jawab itu kembali? Apakah cukup berhenti pada pemimpin yang terlihat di depan? Ataukah juga menyentuh mereka yang dulu berdiri di belakang, meyakinkan publik untuk percaya?
Ada kebiasaan yang diam-diam tumbuh dalam banyak proses politik: merasa tugas selesai saat kandidat yang didukung berhasil duduk di kursi jabatan. Padahal justru di situlah tanggung jawab yang sebenarnya baru dimulai.
