Bukit Hilang Diganti Ruang Nongkrong, Ledakan Kafe di Kota Tasikmalaya Disorot! 

kafe di Kota Tasikmalaya
Kolase Ketua Dewan Kesenian dan Kebudayaan Kota Tasikmalaya (DKKT), Tatang Pahat dan suasana salah satu kafe. Ayu Sabrina Barokah / Radar Tasikmalaya
0 Komentar

TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID — Ledakan jumlah kafe di Kota Tasikmalaya menuai kritik tajam. Di balik geliat ekonomi berbasis gaya hidup, perubahan lanskap kota dinilai kian menjauh dari identitas ekologisnya—bukit-bukit yang dulu jadi kebanggaan, kini perlahan “pensiun dini” digantikan bangunan komersial.

Ketua Dewan Kesenian dan Kebudayaan Kota Tasikmalaya (DKKT), Tatang Pahat, tak menahan kegelisahannya melihat perubahan yang dianggap kebablasan. Ia menyebut kerusakan alam di kota ini sudah berada di titik mengkhawatirkan.

“Dulu Tasik dikenal dengan 1.000 bukit. Sekarang? Ya jadi 1.000 kafe. Bukit jadi kafe, jadi perumahan,” ujarnya, Kamis (23/4/2026) dengan nada getir yang lebih terasa sebagai alarm ketimbang sekadar keluhan.

Baca Juga:Kuasa Hukum Korban: Dugaan Asusila Ada, Meski Terlapor Pedagang Bakso di Kota Tasikmalaya MembantahTransfer Pusat Susut, APBD Kota Tasikmalaya 2026 Turun: PAD Bocor Jadi Sorotan

Data Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Barat seolah menguatkan fenomena itu. Kota Tasikmalaya kini duduk di posisi kedua dengan jumlah kafe terbanyak di Jawa Barat, mencapai 496 unit—hanya kalah dari Bekasi (622).

Angka ini bahkan melampaui Bogor (414), Depok (410), hingga Bandung (228). Sebuah lonjakan yang tak sekadar statistik, tapi juga penanda arah baru wajah kota.

Dari kota dengan karakter alam yang kuat, Tasik kini bertransformasi menjadi ruang konsumsi gaya hidup.

Kafe tumbuh cepat, menjalar hingga ke wilayah yang dulunya merupakan bentang perbukitan. Ekonomi bergerak, tapi lanskap pun bergeser—dan tak selalu ke arah yang lebih hijau.

Tatang menilai, pertumbuhan ini tak bisa dilepaskan dari persoalan lingkungan yang kian kompleks. Ia menyoroti kondisi hutan kota yang terdesak, bahkan disertai aktivitas galian ilegal di sejumlah titik.

“Hutan kota loh, tapi di pinggirnya banyak galian ilegal. Sepanjang jalan kota juga terlihat. Saya sakit melihatnya,” bebernya.

Ia juga menyinggung praktik pembalakan yang dinilai masih abu-abu antara legal dan ilegal. Menurutnya, ketidakjelasan ini hanya mempercepat kerusakan.

Baca Juga:24 Tahun Menabung, Berkah Dagang Cilok-Bubur Ayam Antar Pasutri Kota Tasikmalaya ini ke Tanah SuciBursa Calon Sudah Muncul, Musda Golkar Kota Tasikmalaya Tunggu Kepengurusan Jabar Rampung

“Kalau bisa jangan ada lagi pembalakan. Tasik sudah sakit. Bukit hilang, diganti kafe,” ucapnya, setengah menyindir, setengah meratap.

Di sisi lain, pemerintah daerah melalui Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan, dan Pariwisata (Disporabudpar) mencatat angka berbeda. Kepala Disporabudpar, Deddy Mulyana, menyebut jumlah kafe di Tasikmalaya sekitar 166 unit.

0 Komentar