RADARTASIK.ID – Kekalahan dramatis yang dialami Como dari Inter Milan kembali memantik perdebatan di Italia.
Jurnalis kenamaan, Sandro Sabatini, dalam tulisannya di Calciomercato, menyoroti apa yang ia sebut sebagai “ilusi permainan indah” yang justru menjadi bumerang bagi Como.
Pertandingan semifinal Coppa Italia itu seolah mengulang cerita lama. Como tampil memikat, bahkan sempat unggul 2-0 dan membangkitkan mimpi besar menuju final di Roma.
Baca Juga:Usung Misi Balas Dendam, Fabregas Pakai Formasi Tiga Bek saat Hadapi Inter di Semifinal Coppa ItaliaLegenda Juventus Sarankan Allegri Latih Real Madrid, Bastoni Cocok di Barcelona
Namun seperti yang kerap terjadi musim ini saat menghadapi Inter, harapan itu perlahan sirna. Nerazzurri bangkit dan membalikkan keadaan menjadi 3-2 secara sensasional.
“Como bermimpi dan membuat orang lain ikut bermimpi. Tapi pada akhirnya, mereka hanya menciptakan ilusi,” tulis Sabatini.
Ia menilai tidak ada satu alasan tunggal di balik kekalahan tersebut. Inter memang lebih kuat, tetapi Como dinilai terlalu sibuk menjadi “indah” alih-alih efektif.
Sabatini juga menyinggung perbedaan mentalitas kedua tim. Inter disebut sebagai tim yang “tidak pernah mati”, sementara Como justru kerap kehilangan fokus di momen krusial.
Hasilnya, pelatih Cristian Chivu sukses membawa Inter ke final, sementara Cesc Fabregas harus pulang dengan kekecewaan.
Dari sisi individu, performa pemain Inter tak luput dari sorotan. Kiper asal Spanyol, Martinez, tampil solid meski kebobolan dua gol.
Ia bahkan melakukan satu penyelamatan krusial di babak kedua yang menjadi titik balik pertandingan.
Baca Juga:Cerita Pilu Legenda AC Milan Berjuang Mengobati Anaknya yang Hyperaktif: Itu Momen Terburuk dalam Hidup SayaDiincar Juventus, Lorenzo Pellegrini Puji Luciano Spalletti
Di lini belakang, performa tidak merata. Francesco Acerbi mengalami malam yang buruk, kesulitan menghadapi Douvikas dan bahkan dianggap beruntung tidak mendapat hukuman dari wasit dalam beberapa momen.
Sementara itu, Akanji tampil cukup aktif meski berada di bawah tekanan, dan Carlos Augusto lebih berhati-hati dalam perannya.
Di lini tengah, Nicolo Barella menjadi pemain yang paling menonjol sejak awal, menunjukkan determinasi tinggi.
Namun sorotan utama justru tertuju pada Hakan Calhanoglu.
Sempat tampil di bawah standar selama satu jam, Calhanoglu bangkit di momen penting dengan tembakan jarak jauh dan kontribusi vital, termasuk gol penyeimbang yang membuatnya layak disebut sebagai “pahlawan kebangkitan”.
